• Minggu, 4 Oktober 2026
Sosok

“Kalau Hulu Gagal Diperbaiki, Hilirisasi Sawit Hilang Bahan Baku”

Di usia lebih dari lima dekade kiprahnya, Dr. Ir. Tungkot Sipayung, Founder sekaligus Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), tetap menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh dalam industri sawit Indonesia. Lahir di Simalungun, 25 Oktober 1965, ia memiliki rekam jejak panjang di agribisnis nasional, mulai dari menjadi Dewan Komisaris PT Petrokimia Kayaku Gresik (2002–2007) hingga Komisaris PTPN IV (2008–2013).

Dalam wawancara mendalam di Podcas Sawit Indonesia, Tungkot Sipayung memetakan bagaimana industri sawit bukan hanya menjadi motor ekspor, tetapi juga kekuatan ekonomi regional yang “menghidupkan kembali kota-kota hantu”—wilayah-wilayah yang pernah ditinggalkan usai eksploitasi tambang dan logging.

Menurut Tungkot, sejarah pembangunan ekonomi luar Jawa sejak era Orde Baru memiliki pola yang jelas: eksploitasi sumber daya alam (SDA) oleh dua sektor besar—tambang dan logging.

“Hampir seluruh hutan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi itu eks-logging,” ucapnya. “Setelah kayu-kayu dipanen, perusahaan HPH pergi, menyisakan jalan logging, barak-barak, semak belukar. Ketika tambang berhenti, yang tertinggal adalah lubang-lubang raksasa. Semua ekonomi yang terkait ikut mati.”

Secara ekonomi regional, kondisi itu melahirkan apa yang ia sebut “kota hantu”, yaitu wilayah yang kehilangan basis ekonominya setelah sumber daya habis dieksploitasi.

“Setelah beberapa tahun lahan terbakar, transmigrasi pun tidak mampu menghidupkan kembali kawasan itu,” ujarnya.

Kebangkitan ekonomi baru justru dimulai ketika perkebunan sawit masuk dan memadukan dua hal penting: kebun sebagai sumber produksi dan PKS sebagai pusat pengolahan.

“Sentra sawit itu seperti magnet ekonomi,” jelas Tungkot. “Ia menarik sektor transportasi untuk mengangkut TBS, lalu perdagangan, pemasok pupuk, pestisida, warung makan, toko pakaian hingga lembaga pembiayaan.”

Karena pekerja sawit tidak memproduksi pangan sendiri, maka sektor peternakan, perikanan, dan pertanian pangan berkembang sebagai pemasok kebutuhan harian.

“Di sentra sawit, hampir tidak pernah terjadi kelangkaan pangan. Sebab sawit menciptakan pendapatan yang memutar transaksi antar sektor,” tambahnya.

Menurut perhitungan PASPI, perputaran ekonomi antara perkebunan sawit dengan kawasan pedesaan dan perkotaan mencapai hampir Rp600 triliun per tahun, mencakup pangan, pakaian, transportasi, dan aneka jasa.

Bahkan, ekonomi pulau Jawa—yang tidak memiliki kebun sawit luas—ikut menikmati manfaatnya.

“Lihat arus logistik Merak–Bakauheni atau Surabaya–Semarang,” kata Tungkot. “Truk yang keluar Jawa jauh lebih banyak daripada yang masuk. Itu bukti ekonomi sawit di Sumatera dan Kalimantan menggerakkan industri Jawa.”

Tungkot menegaskan bahwa industri sawit terbukti paling resilien menghadapi krisis ekonomi, termasuk pandemi.

“Produk turunan sawit dipakai manusia setiap hari, terutama kelas menengah ke bawah—mulai dari minyak goreng, sabun, deterjen hingga energi nabati,” jelasnya.

Setiap proses produksi menciptakan pendapatan untuk jutaan pekerja, petani, serta sektor pendukung. Bahkan ketika terjadi krisis ekonomi, transaksi lokal antara petani, nelayan, pedagang, dan pekerja tetap berjalan.

“Di sektor lain, krisis menimbulkan penderitaan. Di sawit justru sebaliknya—ia menjadi penopang ekonomi rumah tangga,” katanya.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 170)

Artikel Terkait