Kelapa sawit punya peranan penting bagi kebijakan transmigrasi yang sudah dimulai pada decade 1980-an. Banyak kisah sukses petani transmigran yang mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
“Kelapa sawit sudah tidak asing bagi peserta transmigran dan Kementerian Transmigrasi. Tanaman ini sudah terbukti memberikan kesejahteraan bagi kelompok transmigrant,” ujar Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi dalam peluncuran buku 45 Tahun GAPKI Untuk Negeri di Jakarta, pada akhir April 2026.
Menurut Viva Yoga bukan suatu hal yang asing bagi Kementerian Transmigrasi (Kementrans) dan transmigran. Ada 600.000 Ha lahan sawit di kawasan transmigrasi.
“Lahan untuk komoditas sawit akan lebih luas bila ditambah dari kelompok transmigran swakarsa, kawasan eks transmigrasi, dan perluasan lahan secara legal lainnya”, ujarnya.
Viva Yoga menceritakan dirinya pernah melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Transmigrasi Kuamang Kuning, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Mayoritas transmigran yang ditempatkan di sana sejak tahun 1985 menjadi petani sawit. Dalam perjalanan waktu, apa yang ditekuni itu mampu mensejahterakan mereka. Warga transmigran dalam mengelola perkebunan sawit ada yang bekerja sama dengan perusahaan swasta, ada pula secara mandiri.
“Selepas kerja sama dengan perusahaan swasta, selanjutnya pengelolaan dilakukan secara mandiri dan lahan menjadi miliki warga”, tuturnya.
Menurut pengakuan para petani sawit di Kuamang Kuning, mereka senang menjadi petani sawit karena mampu meningkatkan pendapatan juga Aditya Giovanni bisa menyekolahkan anak-anaknya. Tingginya nilai komoditas sawit inilah ada yang membuat petani di komoditas lainnya berpindah menjadi petani sawit. “Menurut mereka sawit lebih menguntungkan”, ujar Viva Yoga.
Diakui Viva Yoga, pemerintah menyadari masih adanya persoalan tumpang tindih lahan yang menjadi tantangan dalam menciptakan kepastian investasi. Untuk itu, Kementerian Transmigrasi berkomitmen menyelesaikan permasalahan tersebut, baik melalui jalur hukum maupun pendekatan adat agar prosesnya lebih cepat dan harmonis.
Ke depan, pemerintah akan mengarahkan kebijakan transmigrasi tidak hanya pada pemindahan penduduk, tetapi juga peningkatan kualitas hidup masyarakat di kawasan tersebut. Dengan pengembangan komoditas unggulan seperti sawit di Sumatera dan Kalimantan, padi di Papua, serta hortikultura di Sulawesi, kawasan transmigrasi diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri dan berkelanjutan.
Mantan Anggota Komisi IV DPR ini menyebut sawit merupakan komoditas ekspor yang menghasilkan devisa terbesar untuk non-migas. “GAPKI harus menjadi jembatan komunikasi antara pengurus dan anggota dengan pemerintah”, tegasnya.
“Harapan kami semoga organisasi yang berdiri pada tahun 1981 ini mampu menjadi jembatan antara pelaku usaha kelapa sawit dengan pemerintah” ujar Viva Yoga dalam sambutan untuk Perayaan 45 Tahun GAPKI.
Viva Yoga mengatakan sawit adalah kekayaan terbesar Indonesia sehingga sangat disesalkan bila kemudian komoditas ini diurus dengan tidak tepat atau salah kebijakan. “Ini yang tidak boleh”, ujarnya. Semua hal harus dikomunikasikan agar sawit mampu menguntungkan bagi para pengusaha serta harus mensejahterahkan anggota dan petani sawit.
Untuk lebih mengembangkan komoditas ditekankan perlunya peremajaan bila telah tiba waktunya, serta riset dan inovasi dalam mengelola produk sawit dan turunannya serta perluasan pasar.
Viva Yoga mendorong GAPKI terus berkiprah dalam dunianya hingga kehadirannya di dunia persawitan mampu mensejahterahkan semua pihak hingga memberi efek pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, dan melahirkan inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan. “Kementrans akan terus berkomunikasi dengan GAPKI untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara”, tegasnya.
Transmigrasi Ciptakan Kesejahteraan Petani
Pada akhir Desember 2025, Saat berjumpa dengan para transmigran di perkebunan sawit di desa itu, Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan ia berkunjung untuk melihat secara langsung keberhasilan program transmigrasi. Dikatakan mereka yang datang di Kuamang Kuning pada tahun 1985 dengan perjuangan yang keras, kesabaran, dan ketelatenan yang akhirnya mampu membuka lahan-lahan kosong menjadi perkebunan sawit yang produktif.
Dikatakannya, kawasan transmigrasi Kuamang Kuning mempunyai jejak sejarah transmigrasi tersendiri.
“Pada 1985, kawasan transmigrasi ini dibuka oleh Presiden Suharto dan Menteri Transmigrasi Martono hadir di Kuamang Kuning. Hadirnya Presiden menunjukan Kuamang Kuning merupakan kawasan yang sangat penting”, tambahnya.
Viva Yoga senang setelah transmigrasi dimulai tahun 1985, kini Kuamang Kuning menjadi desa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Sebagai kawasan transmigrasi yang mayoritas warganya sebagai petani sawit, apa yang diusahakannya itu mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Saya mendengar di sini setiap bulan ada yang umroh”, ujarnya.
Meningkatnya kesejahteraan transmigran menurutnya merupakan paradigma baru transmigrasi. Paradigma baru itu adalah transmigrasi sekarang bukan hanya menindahkan penduduk namun lebih beroreintasi pada kesejahteraan masyarakat.
Sebelum mandiri, para transmigran melakukan kerja sama dengan perusahaan swasta dengaan sistem inti plasma. Setelah kerja sama usai, mereka menjadi petani sawit yang mengelola sendiri lahan yang dimiliki. “Tanah dan pohon sawit yang ada menjadi miliknya”, ujarnya.
Dari kisah sukses transmigran di Kuamang Kuning, Viva Yoga menyebut paradigma baru transmigrasi sekarang tidak sekadar memindahkan penduduk namun lebih berorientasi pada meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat yang mendiami kawasan transmigrasi. “Bila transmigran sejahtera maka program ini sesuai dengan harapan semua”, ujarnya. Terciptanya kesejahteraan di Kuamang Kuning akan membuat kawasan itu sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.
Di Karya Harapan Mukti ada 1000 kepala keluarga. Mayoritas mereka sebagai petani sawit. Pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi menurut Viva Yoga disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah. “Kalau di Bungo kita kembangkan sawit, sedang di daerah lain, misalnya di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat, potensi unggulannya adalah coklat, sedang di Gorontalo kelapa,” ujar mantan Anggota Komisi IV DPR itu.Pengembangan potensi unggulan hasilnya akan dikembangkan tidak hanya sebatas level UMKM. “Perlu kita bikin industrialisasi di kawasan transmigrasi”, tuturnya. Industrialisasi di kawasan transmigrasi disebut sudah ada di Kawasan Melolo, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, di sana berdiri Pabrik Gula Sumba Manis. Industrialisasi di kawasan transmigrasi, dengan ribuan kebun tebu, dilakukan untuk lebih meningkatkan produksi potensi unggulan kawasan transmigrasi.
Viva Yoga melihat pohon sawit yang ada di Kuamang Kuning sudah tua. Untuk itu Kementerian Transmigrasi akan bersinergi dengan Kementerian Pertanian dan Pemerintah Bungo untuk replanting (peremajaan) pohon sawit. Diungkap di lahan seluas 10.000 hektar are, perlu dilakukan replanting. “Kita akan bersinergi dengan Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah”, ujarnya.














