Jakarta, SAWIT INDONESIA – Pemerintah bakal menggunakan lahan dari hutan yang terdegradasi seluas 12,7 juta hektare untuk bahan baku biofuel termasuk B50 dan B100.
Hal ini disampaikan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo dalam Investor Daily Summit di Jakarta, Rabu (7 Oktober 2026). Menurutnya, sumber bahan baku biofuel akan diperoleh dari hutan yang statusnya rusak bukan hutan primer.
"Biofuel yang disebut oleh Pak Bahlil, B50 sampai B100, nanti sumber-sumbernya itu dari hutan yang rusak, bukan hutan primer," ungkap Hashim sebagaimana dikutip dari tayangan di Youtube Investor Daily.
Dari data Kementerian Kehutanan, diuraikan Hashim, bahwa saat ini 12,7 juta hektare bersifat degraded land. Artinya, kawasan tersebut berstatus hutan tetapi tidak ada kayu lagi. Kondisinya itu menjadi semak belukar yang rawan memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
"Jadi hutan tersebut adalah hutan rusak di mana tidak ada kayu lagi, sudah ditebang, semak belukar dan sebagainya. Itu yang sebetulnya sumber Karhutla, hutan-hutan rusak itu," jelasnya.
Hashim menegaskan bahwa Indonesia menuju swasembada energi dari biofuel dengan menggunakan hutan terdegradasi bukan hutan primer.
Sebagai informasi, pemerintah telah membahas produksi pangan yang digunakan sebagai bahan baku nabati ke depan akan memanfaatkan lahan terdegradasi. Pemanfaatan lahan tersebut juga menjadi bagian dari program Kementerian Kehutanan terkait aforestasi, reforestasi, dan revegetasi.














