• Senin, 12 Oktober 2026
Berita Terbaru

Jaga Keseimbangan Ekspor dan Pasokan Domestik, GAPKI Dorong Kebijakan Biofuel Fleksibel Ala Brasil

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengusulkan penerapan kebijakan biofuel (bahan bakar nabati) yang lebih fleksibel guna menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi domestik, pemenuhan pasar ekspor, dan keberlanjutan industri sawit nasional. Kebijakan ini dinilai krusial agar alokasi minyak sawit (crude palm oil/CPO) dapat disesuaikan secara dinamis mengikuti fluktuasi harga komoditas global.

Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, menjelaskan bahwa skema ini terbukti efektif diterapkan oleh negara produsen biofuel dunia seperti Brasil, yang menyesuaikan porsi energi dan ekspor berdasarkan iklim pasar internasional.

"Ketika harga minyak bumi berada pada level tinggi, penggunaan minyak sawit untuk biodiesel dapat diperkuat. Sebaliknya, ketika harga CPO lebih tinggi dan memberikan nilai ekonomi lebih besar di pasar internasional, sebagian pasokan dapat diarahkan untuk memperkuat ekspor," jelas Mukti.

Poin-poin utama tantangan alokasi CPO, proyeksi penurunan ekspor 2027, hingga solusi jangka panjang GAPKI meliputi:

  • Risiko Pengurangan Dana Subsidi Biodiesel: Kenaikan konsumsi domestik untuk porsi biofuel mengancam penurunan volume ekspor CPO. Dampaknya, penerimaan negara dari Pungutan Ekspor (PE)—yang menjadi sumber utama pendanaan subsidi biodiesel BPDP—berpotensi menyusut.

Proyeksi Lonjakan Konsumsi Domestik & Tekanan Ekspor 2027:

  • Produksi Stagnan: Produksi CPO nasional bertahan di kisaran 51–56 juta ton per tahun.

  • Kebutuhan Biodiesel: Penggunaan CPO untuk biodiesel melesat dari 12,4 juta ton (2025) menjadi lebih dari 14 juta ton (2026), dan diproyeksikan menembus 17 juta ton pada 2027.

  • Potensi Anjloknya Ekspor: Ekspor CPO Indonesia diperkirakan tergerus sekitar 3–4 juta ton pada 2027 jika tidak ada peningkatan produktivitas yang signifikan.

  • Percepatan PSR Sebagai Kunci: GAPKI menegaskan percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebagai langkah wajib untuk mendongkrak tonase panen tanpa perlu ekspansi lahan baru.

  • Solusi Kawasan Sawit Khusus Energi (Dedicated Area): Selain fleksibilitas aturan, GAPKI mendorong pembentukan kawasan kebun sawit yang dikhususkan memasok energi. Langkah ini akan memisahkan pasokan biodiesel dari alokasi bahan baku pangan dan komoditas ekspor.

GAPKI menekankan bahwa kombinasi antara kebijakan biofuel yang adaptif, percepatan PSR, dan pembangunan kawasan sawit energi akan menjamin ketahanan energi nasional sekaligus mempertahankan dominasi sawit Indonesia di pasar perdagangan dunia.

Sumber: gapki.id

Artikel Terkait