• Minggu, 4 Oktober 2026
Berita Terbaru

INSTIPER Yogyakarta Dorong Pemanfaatan Malam Batik Sawit di Kampung Tamansari

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA — Batik sebagai warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO sejak 2009 memiliki keterkaitan yang erat dengan Yogyakarta, yang pada 18 Oktober 2014 juga ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia. Predikat ini didukung berbagai keunggulan, mulai dari nilai sejarah, keaslian, hingga dampak ekonomi yang dihasilkan.

Di tengah upaya pelestarian tersebut, penggunaan bahan dasar malam batik masih menghadapi tantangan karena bergantung pada paraffin berbasis fosil. Padahal, ada bahan lilin atau malam batik lain yang lebih ramah lingkungan yakni dari stearin sawit. Stearin dari fraksi padat minyak kelapa sawit dinilai memiliki karakteristik fisik yang serupa dan berpotensi menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Inovasi malam batik berbahan kelapa sawit telah diperkenalkan pada 2025 oleh Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan.

Sayangnya, pemanfaatan inovasi ini belum banyak dikenal oleh para pengrajin batik di Yogyakarta. Berangkat dari kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat INSTIPER Yogyakarta yang dipimpin oleh Betti Yuniasih, M.Sc. menggelar kegiatan edukasi dan pendampingan bagi anggota Paguyuban Batik Kampung Tamansari selama Januari hingga April 2026, dengan melibatkan 10 pengrajin batik. Kegiatan ini mendapat dukungan pembiayaan dari LPPM melalui Dana PKM Internal INSTIPER tahun 2025/2026.

Betti Yuniasih menjelaskan, pemilihan lokasi di Kampung Tamansari dikarenakan lokasi ini merupakan salah satu sentra batik di Yogyakarta dan juga merupakan salah satu tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri maupun luar negeri.

“Sehingga harapannya kegiatan ini juga menjadi salah satu kampanye positif untuk memperkenalkan produk turunan kelapa sawit yang ramah lingkungan tidak hanya kepada pengrajin batik namun juga pada wisatawan yang berkunjung. Selain itu pengrajin batik di lokasi tersebut belum pernah memanfaatkan malam batik kelapa sawit sehingga menjadi sasaran yang tepat untuk edukasi,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sawitindonesia.com.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman peserta terkait malam batik dan potensi stearin sebagai pengganti paraffin. Hasilnya menunjukkan sebagian besar peserta belum mengenal malam batik kelapa sawit dan belum pernah menggunakannya dalam proses produksi.

Selanjutnya, peserta mendapatkan materi pengenalan, praktik penggunaan malam kelapa sawit, uji kualitas, diskusi kelompok terarah (FGD), hingga pendampingan langsung dalam proses membatik. Dari hasil uji tersebut, para pengrajin menilai kualitas malam berbahan kelapa sawit lebih unggul dibandingkan malam konvensional.

Iwan Setiawan selaku Ketua paguyuban menyampaikan, hasil pengujian kualitas malam kelapa sawit menunjukkan kualitas yang lebih baik daripada malam yang biasa dipakai.

“Malam kelapa sawit lebih cepat meleleh, asap yang ditimbulkan lebih sedikit, dan aromanya tidak menyengat. Pada saat dicantingkan ke kain juga lebih mudah dan tidak lengket sehingga membuat pekerjaan lebih efisien,” ujarnya.

Selain itu, hasil batikan menggunakan malam kelapa sawit menunjukkan kualitas yang baik, tidak mudah retak, serta mampu menjalankan fungsi perintang warna secara optimal. Kain yang dihasilkan tampak lebih bersih tanpa sisa malam setelah proses pelorodan, serta menghasilkan pewarnaan yang maksimal.

Melalui program ini, INSTIPER Yogyakarta mendorong pengrajin batik untuk beralih ke bahan yang lebih berkelanjutan. Stearin sebagai turunan minyak kelapa sawit dinilai memiliki keunggulan karena bersifat biodegradable, terbarukan, serta menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan paraffin.

Ke depan, kegiatan ini diharapkan terus berlanjut dan membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendukung pengembangan batik ramah lingkungan di Kampung Tamansari.

“Kami tertarik untuk beralih ke malam batik kelapa sawit karena lebih ramah lingkungan. Kami juga berharap kerjasama dengan INSTIPER atau pihak-pihak terkait dapat berlanjut. Kami terbuka jika ada pihak seperti perusahaan kelapa sawit mau berkolaborasi dengan kami untuk mewujudkan eco-batik lestari yang sesuai dengan judul kegiatan pengabdian ini”, pungkas Iwan.

Artikel Terkait