Jakarta, SAWIT INDONESIA – Untuk membekali para mahasiswanya sebelum kegiatan magang di perkebunan sawit rakyat dan on job training di perusahaan perkebunan sawit, Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY 'STIPER') kembali menyelenggarakan kegiatan praktik lapangan (Learning Factory) ke-9 Tahun Akademik 2024-2025. Kegiatan ini, diselenggarakan di Stiper Edu Agro Tourism (SEAT) KP2 Ungaran, Semarang Jawa Tengah.
Secara rinci, kegiatan ini dibagi menjadi empat gelombang dalam pelaksanaannya, untuk gelombang pertama dilaksanakan pada 12 – 23 Januari 2025 (10 hari kerja efektif), diikuti 159 orang dari total 596 orang. Akan dilanjutkan gelombang berikutnya hingga berakhir pada 25 Februari 2025.
Ketua Pelaksana Learning Factory AKPY 'STIPER' 2025, Subakho Aryo Saloko, menyampaikan dalam pelaksanaan kegiatan learning factory mahasiswa mendapatkan beberapa materi mulai dari persiapan lahan hingga panen.
“Materi-materi yang diberikan adalah kerjaan job desk sebagai supervisi level bawah yang ada di perkebunan kelapa sawit, baik di perkebunan rakyat maupun perusahaan. Jadi, untuk membekali dan mempersiapkan mahasiswa sebagai Mandor dan Kerani yang memiliki kompetensi, materi-materi tersebut diberikan,” ujarnya, saat ditemui di lokasi kegiatan Learning Factory, beberapa waktu lalu.
“Kami mengharapkan mahasiswa-mahasiswi AKPY 'STIPER' angkatan – 9, dapat memahami dan menyerap semua materi yang diberikan selama kegiatan learning factory. Sebab, ini menjadi bekal mahasiswa sebelum masuk pada tahap (proses) magang beberapa bulan yang akan datang,” tambah Subakho yang karib disapa Oka.
Dari hasil penelusuran informasi oleh tim redaksi sawitindonesia.com, mahasiswa-mahasiswi AKPY 'STIPER' selama kegiatan learning factory mendapat beragam materi di antaranya, persiapan lahan. Pada materi ini dijelaskan pengenalan alat surveyor, pengenalan memancang, pancang datar, pancang bukit, tanam kelapa sawit, tanam LCC, perbanyakan LCC.
Materi lainnya, yaitu pembibitan, dengan pemaparan prenursery dan main nursery tanaman kelapa sawit. Materi berikutnya, Rawat Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) yang dilakukan untuk rawat gawangan manual, konservasi lahan, pemupukan TBM, kastrasi, sanitasi, dan pembuatan pupuk organik.
Selanjutnya, materi Rawat Tanaman Menghasilkan (TM). Pada materi ini diberikan penjelasan rawat gawangan chemis, taksasi dan sensus produksi, LSU, Hama Tanaman Sawit, Penyakit Tanaman Sawit. Dan terakhir materi panen dengan penjelasan taksasi produksi, panen janjang kelapa sawit, administrasi panen, rawat pokok, rawat gawangan mati.
Diungkapkan Subakho, secara teknis dalam kegiatan learning factory, mahasiswa dibentuk dalam tim kemandoran beranggotakan 6 orang, setiap hari secara bergantian menjadi mandor, kerani atau karyawan. Dengan output atau target yang ingin dicapai yakni dapat melahirkan Mandor dan Kerani kompeten dengan yang memiliki knowlegde, skill, dan attitude).
“Kegiatan harian selama menjalani kegiatan learning factory yang diawali di pagi hari. Pagi dimulai dengan lingkaran pagi, pengarahan mandiri per kemandoran, koordinasi dengan mentor, Pagi - Siang (pukul 12.00 WIB); melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Rencana Kerja Harian (RKH), Siang; evaluasi hasil pekerjaan, administrasi/penyusunan laporan, presentasi hasil kerja harian, Malam; penyusunan rencana kerja harian, pengarahan kegiatan untuk esok hari,” ungkapnya.
Kegiatan learning factory yang menghadirkan mentor (praktisi kebun) dan pendamping (dosen), mengintegrasikan skill kompetensi agronomi, leadership dengan teknologi, mekanisasi dan digitalisasi; drone, GPS, AWS, hole digger, penarikan data lapangan, dan pelaporan data lapangan.
Dilengkapi dengan fasilitas atau sarana prasarana pembelajaran antara lain kursi belajar, proyektor, ruang belajar yang nyaman, kepemilikan laptop per masing-masing mahasiswa. Untuk istirahat mahasiswa disediakan asrama yang tersedia di SEAT, KP2 – Ungaran, Jawa Tengah.






