• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Ini Hasil dari Focus Group Discussion Kampus Berdampak yang Diadakan APTSIPI di AKPY STIPER

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA - Dr.Ir. Paristyanti Nurwardani, MP selaku Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Ilmu Pertanian Indonesia (APTSIPI) ungkap hasil Focus Group Discussion (FGD) ‘Kampus Berdampak: Perguruan Tinggi yang Menjadi Pusat Solusi Nyata Bagi Masyarakat’, yang diadakan di kampus AKPY STIPER, di Yogyakarta, pada Sabtu (12 Juli 2025).

Ada tiga poin penting yang disepakati dalam FGD Kampus Berdampak, dan menjadi program yang akan dijalankan dalam rangka menyukseskan program Kampus Berdampak oleh APTISPI.

Diungkapkan Dr. Paristyanti, pihaknya sebagai bagian dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi yang tidak dapat terpisahkan. Maka, dengan adanya Program Kampus Berdampak yang diluncurkan pada Mei lalu, ingin turut berkontribusi agar program tersebut (Kampus Berdampak) dapat berjalan dengan baik dan sukses.

“Salah satunya melalui FGD Kampus Berdampak agar 167 PTS Ilmu Pertanian yang tergabung di APTSIPI bisa berkontribusi dalam memberikan solusi nyata dari permasalahan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya, saat ditemuiusai FGD Kampus Berdampak.

“Mungkin kalau dulu ada permasalahan cuek-cuek saja, tetapi kalau sekarang perguruan tinggi harus bisa memberikan solusi. Kita harus bisa mengidentifikasi masalah, melakukan analisis data, serta mencari solusinya untuk permasalahan yang ada di level lokal dan nasional serta global,” tambah Dr. Paristyanti.

Kegiatan FGD Kampus Berdampak ini, turut dihadiri Wakil Menteri Diktisaintek, Prof.Dr. Fauzanini,M.Pd dan Plt Direktur Belmawa Ditjen Pendidikan Tinggi, Dr. Bery Juliandi,S.Si,M.Si, dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) V, Prof. Setyabudi Indartono,MM, Ph.D menghasilkan tiga output. Ini menjadi sejarah baru bagi APTSIPI, event yang diadakan dihadiri pejabat penting dari Kementerian.

“Pertama, persiapan untuk seminar internasional yang akan mengusung Kampus Berdampak, yang diagendakan pada Oktober mendatang di Bali. Kedua, sebagai perguruan tinggi yang harus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi maka kami menyiapkan jurnal yang diterbitkan APTSIPI, dengan nama SIP (Sinergi Inovasi Ilmu Pertanian) yang akan diluncurkan pada 17 Agustu 2025,” kata Dr. Parisytanti.

Ketiga, lanjutnya, pihaknya ingin mempersiapkan KKN kewirausahaan dengan tema teaching factory yang berdampak bagi masyarakat pertanian. Salah satunya, terkait dengan program Makan Bergizi Gratis (MGB).

“Kami akan melakukan penanganan untuk pengembangan teaching factory pupuk nano nutrient dari limbah makanan MGB, dari limbah dapur MGB maupun sekolahnya. Limbah inilah yang akan kami manfaatkan untuk diolah menjadi pupuk nano nutrient. Mudah-mudahan ini dapat terwujud pada 2026,” jelas perempua yang kini menjabat sebagai Rektor Universitas Bhakti Asih Tangerang, Banten.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahkan Direktur Belmawa (Dr. Bery Juliandi) berkenan menjadi pembimbing program teaching factory (KKN Berdampak). Program teaching factory (TEFA) ini nantinya bisa mengangkat derajat anak-anak petani. Tahun ini dan tahun mendatang akan ada pilot project-nya, mudah-mudahan pada 2027 bisa di-franchise-kan keseluruh Indonesia.

“Kami sangat yakin TEFA (teaching factory) pupuk nano nutrient dari limbah MGB akan menjadi salah satu holding yang akan menjadi sponsor berbagai kegiatan mahasiswa yang berasal dari anak petani,” pungkas Dr. Paristyanti dengan bangga.

Artikel Terkait