• Sabtu, 3 Oktober 2026
Seremoni

Industri Sawit Diminta Semakin Baik Mulai Teknologi Sampai Tata Kelola

Industri kelapa sawit menghadapi tekanan global yang kian kompleks, mulai dari tuntutan keberlanjutan hingga regulasi ketat pasar ekspor. Di tengah situasi itu, penerapan best management practices (BMP) dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya saing sekaligus meningkatkan produktivitas sektor ini.

Isu tersebut mengemuka dalam Hai Sawit Simposium (HASI) 2026 di Jakarta, Rabu-Kamis (11-12 April 2026). Direktur Sawit dan Palma Lainnya Kementerian Pertanian (Kementan), Iim Muchtarom, menegaskan posisi strategis sawit dalam ekonomi global.

Ia menjelaskan, Indonesia bersama Malaysia menguasai sekitar 80%-85% pasokan minyak sawit dunia. Produksi Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 53,6 juta ton, jauh di atas Malaysia yang berada di kisaran 19-20 juta ton.

“Kelapa sawit menjadi komoditas penting untuk ketahanan pangan, energi, dan ekonomi,” ujar Iim dalam sambutannya yang mewakili Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Dr. Ir. Ali Jamil, MP., Ph.D yang berhalangan hadir, Rabu.

Secara domestik, kontribusi industri sawit terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 2,5%-4,5% dan menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja. Selain itu, sektor ini menjadi penyumbang devisa utama dengan nilai ekspor minyak sawit pada 2025 sekitar US,42 miliar.

Namun, besarnya kontribusi tersebut diiringi tantangan yang tidak ringan. Salah satunya adalah implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan produk sawit bebas deforestasi serta memiliki sistem ketertelusuran hingga tingkat kebun.

“Kondisi ini menuntut transformasi menyeluruh, mulai dari legalitas lahan hingga transparansi rantai pasok,” kata Iim.

Transformasi Industri dan Peran Kebijakan

Merespons tantangan tersebut, pemerintah mendorong penerapan BMP sebagai standar utama industri. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memastikan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan global.

Sejalan dengan itu, pemerintah memperkuat hilirisasi melalui mandatori biodiesel B40 sejak 2025 dan menyiapkan peningkatan ke B50. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan serapan domestik crude palm oil (CPO) sekaligus mengurangi ketergantungan impor energi.

Dukungan juga diperkuat melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), antara lain lewat program peremajaan sawit rakyat (PSR) serta penguatan sumber daya manusia.

HASI sebagai Ruang Kolaborasi Industri

Ketua Panitia HASI 2026, M. Gema Aliza mengatakan forum ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan.

“Kami melihat banyak profesional sawit hebat, tetapi belum ada ruang yang benar-benar mempertemukan mereka secara terbuka dan berbasis praktik,” ujarnya.

Menurut dia, HASI kini berkembang menjadi ruang kolaborasi antara pelaku industri Indonesia dan Malaysia dengan fokus pada persoalan riil di lapangan.

Ketua Umum Himpunan Profesional Kelapa Sawit Indonesia (HIPKASI), M. Syarif Rafinda dalam sambutannya juga menilai industri sawit berada di titik krusial sehingga membutuhkan transformasi cepat.

“Tekanan global dan tuntutan keberlanjutan memaksa kita beradaptasi. Industri harus bertransformasi dengan teknologi seperti kecerdasan buatan dan sistem digital,” katanya.

Ia menegaskan, kolaborasi lintas negara dan sektor menjadi kunci untuk menjaga peran strategis sawit sebagai tulang punggung ekonomi dan energi.

Replanting dan Desain Kebun Jadi Kunci

Selain aspek kebijakan, pelaku industri juga menyoroti pentingnya percepatan replanting dan perbaikan desain kebun. Dalam sesi diskusi, CEO Upstream Malaysia, Jeffry Faizal Kamaruddin, menekankan bahwa peremajaan kebun harus dilakukan secara menyeluruh.

“Replanting bukan sekadar mengganti tanaman, tetapi merancang ulang kebun agar lebih efisien dan siap untuk mekanisasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan seperti pengelolaan lahan gambut dapat diatasi dengan penyesuaian teknologi dan sistem pengelolaan air. Menurutnya, kendala utama mekanisasi justru terletak pada tata kelola kebun yang belum optimal.

Pandangan serupa disampaikan SVP Research and Development PT Astra Agro Lestari, Cahyo Sri Wibowo. Ia menilai kebutuhan replanting semakin mendesak seiring bertambahnya usia tanaman.

“Kami menargetkan tanaman di atas 20 tahun mulai direplanting, terutama yang sudah tidak produktif,” ujarnya.

Astra Agro yang mengelola sekitar 280.000 hektare kebun memanfaatkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menentukan prioritas replanting. Perusahaan juga menghadapi tantangan teknis seperti serangan hama oryctes di lahan berpasir, yang mendorong penggunaan varietas tanaman yang lebih beragam.

Mekanisasi Tingkatkan Efisiensi

Di sisi operasional, mekanisasi terbukti mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya. Dalam sesi diskusi lanjutan, Regional Director PT Tolan Tiga Indonesia (Sipef Group), Bernardo Frans Purba, menyebut penggunaan alat mekanisasi memberikan lonjakan signifikan.

“Dengan metode manual, produktivitas sekitar 12 ton per hari. Dengan alat seperti Kioti, bisa mencapai 42 ton per hari,” ujarnya.

Selain meningkatkan output lebih dari tiga kali lipat, penggunaan alat tersebut juga mampu menekan biaya hingga 62 persen. Perusahaan juga mengoptimalkan teknologi grabber dan sistem bin untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan mekanisasi sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, termasuk kondisi jalan dan penempatan titik pengumpulan hasil.

Dengan berbagai upaya tersebut, pelaku industri berharap transformasi sektor sawit dapat berjalan lebih cepat, sehingga tetap kompetitif di tengah tekanan global yang terus meningkat.

Sementara itu, Chief Estate Manager Cargill Tropical Palm, Eddwin Pabela, menekankan bahwa tren mekanisasi telah berkembang pesat dalam satu dekade terakhir, terutama pada sistem pengumpulan (infield mechanization system).

Menurutnya, dorongan utama mekanisasi tidak hanya terkait efisiensi, tetapi juga faktor keselamatan kerja dan ketergantungan terhadap tenaga kerja manual. “Bisnis sawit merupakan sektor padat karya dengan risiko tinggi, terutama pada aktivitas panen. Mekanisasi menjadi salah satu cara untuk mereduksi risiko tersebut,” ujarnya.

Eddwin menyoroti tantangan dalam perekrutan tenaga panen, khususnya untuk tanaman tinggi yang membutuhkan keterampilan khusus. Selain itu, kenaikan upah minimum dan keterbatasan fasilitas di wilayah terpencil turut menjadi hambatan bagi perusahaan dalam mempertahankan tenaga kerja.“Produktivitas manual memiliki batas karena bergantung pada kemampuan manusia. Sementara mekanisasi menawarkan solusi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga keberlanjutan operasional,” jelasnya.

Artikel Terkait