Nusa Dua, Bali, SAWIT INDONESIA - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang mempersiapkan peluncuran program biodiesel B50, campuran 50% biodiesel dengan solar, sebagai upaya besar untuk mengurangi emisi karbon, menciptakan lapangan kerja, dan menstabilkan harga sawit.
Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi ESDM, Eniya Listiani, dalam konferensi pers Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Kamis (13 November 2025).
Menurut Eniya, persiapan B50 telah mendapatkan arahan langsung dari Presiden dalam rapat terbatas (ratas) dan sedang disiapkan oleh Menteri ESDM untuk segera diluncurkan.
"Kami sedang melakukan tes laboratorium dan uji jalan. Hasil tes sebelumnya pada B30 hingga B40 menunjukkan masalah seperti penyumbatan filter dan kerusakan engine. Untuk B50, kami menguji dengan dua jenis solar: yang saat ini digunakan dengan kandungan sulfur 2000 ppm per liter, dan solar Euro 4 dengan 40 ppm. Hasil awal menunjukkan B50 lebih optimal dengan solar Euro 4 yang lebih rendah sulfur," jelas Eniya.
Target peluncuran uji coba ditetapkan sekitar 3 Desember mendatang, dimulai dari sektor pertambangan di Kalimantan dan maritim di bawah Kementerian ESDM. Program ini akan mencakup enam sektor utama: pertambangan, perkeretaapian, pertanian (termasuk alat dan mesin pertanian atau alsintan), perkapalan, dan otomotif. Uji coba akan berlangsung selama 3 hingga 8 bulan, tergantung sektornya.
"Ini bukan sekadar uji coba, tapi langkah nyata. Kami akan menunggu hasil dari alsintan dan sektor lainnya," tambahnya.
Meski demikian, Eniya menekankan bahwa penerapan mandatori B50 adalah cerita lain yang memerlukan kajian mendalam soal aspek teknis, ekonomi, ketentuan harga, dan Harga Indeks Pasar (HIP).
"Kami sedang berdiskusi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Saat ini, ada surplus solar sekitar 9 juta liter berkat produksi kilang Balikpapan. Jika mandatori diterapkan Juni tahun depan, kami harus hitung ulang surplusnya. Diskusi kemarin menyebut kenaikan 5% pada Public Service Obligation (PSO), tapi produktivitas di hulu belum naik signifikan," ungkapnya.
Di samping pasokan CPO, salah satu tantangan utama B50 adalah potensi pembengkakan (swelling) pada komponen karet di mesin. "Yang paling bagus adalah menggunakan teflon yang tidak mudah bengkak. Indonesia sudah berpengalaman lama di bidang ini. Kami mendatangkan sparepart dan melakukan tes sendiri. Bahkan Gaikindo dan Toyota sudah tes mandiri," kata Eniya.
Ia mencontoh Brasil yang sukses dengan etanol dari tebu, di mana harga melonjak tapi tantangan seperti kandungan air diatasi dengan lahirnya flexi engine.
Eniya Listiani menegaskan komitmen pemerintah untuk transparansi total dalam hasil uji coba biodiesel B50. P
"Pengguna harus menyesuaikan, seperti ganti karet dan filter. Jika engine jebol setelah 50 ribu kilometer, kami akan transparan dan umumkan hasilnya. Jika tidak cocok, Pak Menteri dan juga Pa Presiden terima masukan."
Eniya juga menyoroti manfaat ekonomi B50. "Tujuannya stabilkan harga sawit, ciptakan lapangan kerja, dan turunkan emisi. Harga CPO naik, TBS (tandan buah segar) dari Rp300 (awal penerapan biodiesel) jadi Rp3.000. Tapi volume harus dihitung ulang. Mungkin perlu buka lahan baru 2 juta hektare, misalnya untuk PSO bukan lagi rasio 50:50. Semua ini sedang kami diskusikan untuk penyesuaian volume dan harga."














