JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperketat pengawasan dan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan fokus utama pada wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Penguatan operasi ini dikawal langsung oleh Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni melalui peninjauan lapangan ke Kalimantan Selatan pada Senin (12/10/2026).
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) hingga Senin (12/10) pukul 21.00 WIB, satelit NASA (Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20) mendeteksi total 1.085 hotspot tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di seluruh Indonesia.
Khusus di enam provinsi prioritas, jumlah hotspot melonjak menjadi 542 titik (naik signifikan dari 238 titik sehari sebelumnya), dengan rincian:
- Kalimantan Tengah: 227 titik (naik dari 74)
- Sumatera Selatan: 147 titik (naik dari 121)
- Kalimantan Selatan: 113 titik (naik dari 15)
- Kalimantan Barat: 31 titik (naik dari 24)
- Jambi: 24 titik (naik dari 4)
- Riau: Nihil (0 titik)
Saat meninjau penanganan di Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru, bersama Gubernur Kalsel H. Muhidin, Menhut Raja Juli Antoni mengapresiasi kesiapsiagaan tim gabungan di lapangan. Meski kondisi Kalsel relatif terkendali, ia memeringatkan agar seluruh personil tidak lengah mengingat hujan alami diperkirakan BMKG baru turun konsisten pada pertengahan November.
Poin-poin utama strategi penanganan Karhutla, penanganan lahan gambut, pemantauan kualitas udara, serta evakuasi satwa liar meliputi:
- Empat Pilar Pengendalian Karhutla: Menhut menekankan pentingnya menjaga kesiapsiagaan melalui operasi udara (water bombing), kekuatan pemadaman darat, partisipasi aktif masyarakat menolak pembakaran, serta penegakan hukum tegas bagi pelaku pembakaran lahan.
- Fokus Penanganan Lahan Gambut: Pembasahan melalui kanal (canal blocking) serta pendinginan intensif terus digencarkan, terutama di Kalteng dan Sumsel. Hal ini dilakukan guna memadamkan bara api di bawah permukaan tanah gambut yang berpotensi menyala kembali.
- Pemantauan Kualitas Udara (PM2.5): Meskipun mayoritas wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, sebagian area di Sumatera dan Kalimantan mencatatkan indikator tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya. Masyarakat di imbau mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker, serta melindungi kelompok rentan (anak-anak, lansia, dan ibu hamil).
- Penyelamatan Satwa Liar Terdampak: Kemenhut mengimbau warga yang menemukan satwa liar terluka atau mengungsi ke permukiman untuk tidak melakukan evakuasi mandiri, melainkan segera melapor ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau petugas kehutanan terdekat.
Langkah responsif dan pemadaman terintegrasi darat-udara ini terus diperkuat guna meminimalkan dampak kabut asap, mengamankan pemukiman warga, serta menjaga ekosistem hutan Indonesia.
Sumber: kehutanan.go.id














