Jakarta, SAWIT INDONESIA - Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) menjadi peluang bagi Indonesia untuk menciptakan pasar biokomposit dan mengurangi impor yang selama ini berlangsung. Biokomposit dari sawit ini dapat dimanfaatkan menjadi helm dan rompi.
Periset Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan (PR EMK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sigit Setiawan, memaparkan potensi besar pemanfaatan limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) menjadi biokomposit yang mendukung prioritas pembangunan nasional, khususnya kemandirian ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, ironi muncul ketika Indonesia menghasilkan sekitar 47 juta ton TKKS per tahun, namun industri otomotif dan pelindung kepala masih sangat bergantung pada bahan baku impor seperti serat sintetik dan polimer plastik.
Sigit mencontohkan keberhasilan riset pembuatan helm berbahan biokomposit sawit yang terbukti lebih kuat, ringan, dan tahan benturan dibanding helm termoplastik standar di pasaran. Seiring proyeksi permintaan nasional sebesar 10,5 juta unit helm per tahun, ia mengusulkan skema kebijakan afirmatif berupa Program Sejuta Helm Biokomposit.
“Simulasi riset kebijakan menunjukkan jika sepuluh persen produksi helm nasional (sekitar 1 juta unit) menggunakan bahan baku biokomposit sawit, Indonesia berpotensi mengurangi ketergantungan impor bahan baku senilai Rp110,4 miliar dan menciptakan permintaan bahan baku biokomposit domestik sebesar Rp21 miliar,” ungkapnya, pada Macroeconomics and Finance Talks (Mafin Talks) ke-27, bertajuk “Addressing Palm Waste to Promote Inclusive Green Growth Through Biocomposites”, Selasa (26/11) sebagaimana dilansir dari laman BRIN.
Dampak ekonomi lanjutannya, ujar Sigit, diproyeksikan meningkatkan nilai tambah bruto sekitar Rp39,8 miliar, serta meningkatkan upah tenaga kerja sekitar Rp20 miliar, terutama di provinsi sentra sawit seperti Riau, Kalimantan Tengah, dan Sumatra Utara.
Kepala Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan (PR EMK) BRIN, Zamroni Salim, menegaskan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia menghadapi tantangan ekologis signifikan akibat jutaan ton limbah sawit yang dihasilkan setiap tahun. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut hanya akan menjadi beban lingkungan.
“Fokus diskusi Mafin Talks kali ini adalah bagaimana kita menghadapi tantangan besar limbah sawit tersebut. Bagaimana penanganannya bisa bermanfaat, mendukung inklusivitas, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional,” ujar Zamroni.
CEO PT Intersisi Material Maju, Andika Krisnawati, mengajak masyarakat mengubah paradigma terhadap limbah sawit dari sekadar beban menjadi aset strategis. Dengan TKKS menyumbang 23 persen dari tandan buah segar, ia menilai biokomposit sawit mampu menjawab sekaligus tantangan lingkungan, ekonomi, dan industrialisasi.
Bahan biokomposit sawit telah berhasil digunakan untuk berbagai produk industri, mulai dari helm berstandar SNI hingga rompi antipeluru. Namun, Andika mengakui sejumlah tantangan masih mengemuka, seperti biaya molding yang tinggi dan rendahnya edukasi pasar mengenai produk eco-friendly.
Karena itu, ia menegaskan perlunya kolaborasi erat dengan BRIN untuk membangun roadmap ekonomi sirkular biomassa sawit termasuk riset lanjutan, pelatihan UMKM, dan pendirian pilot plant desa berbasis biokomposit.
“Biokomposit adalah katalisator hilirisasi dan alat pemberdayaan UMKM yang krusial, membuka jalan bagi terwujudnya pertumbuhan hijau yang inklusif di Indonesia,” tegas Andika.
Sementara itu, Kepala Riset dan Pengembangan PT Intersisi Material Maju, Siti Nikmatin, turut memaparkan hasil inovasi puluhan tahunnya mengenai pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku biokomposit bernilai tambah tinggi. Riset tersebut mendorong substitusi serat sintetis dan plastik impor dengan serat alam TKKS, sekaligus memperkuat kemandirian bahan baku nasional.
Implementasi terkuat inovasi ini tercermin pada produksi helm motor berbahan biokomposit bermerek green composite helmet (GCH) yang terbukti memiliki daya redam benturan lebih baik, sehingga dapat meningkatkan keselamatan pengendara. Selain helm, riset untuk substitusi Kevlar pada rompi antipeluru kini juga menunjukkan prospek industri yang menjanjikan.














