JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono menyebut harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dalam tren yang stabil hingga akhir tahun 2023.
“Kalau saya melihat sampai dengan akhir tahun itu memang tidak ada kenaikan yang signifikan tetapi juga tidak ada penurunan harga yang drastis artinya masih normal,” ungkap Eddy Martono saat ditemui di kantor B-Universe, Jakarta Selatan, Senin (11/12/2023).
Eddy mengakui bahwa memang harga CPO sempat runtuh dalam lima hari beruntun belakangan ini. Hal ini karena dipengaruhi oleh beberapa sentimen negatif, mulai dari meningkatnya stok di negara produsen hingga kekhawatiran kondisi ekonomi Tiongkok.
“Kemarin itu pengaruh isu-isu saja, jadinya sempat turun tetapi sudah naik kembali jadi masih okelah. Artinya dengan harga saat ini di kisaran US$ 900 per metrik ton tidak terlalu menekan industri kelapa sawit,” ujar Eddy.
Menurut Eddy, harga CPO diprediksi akan menguat pada pekan depan tetapi penguatan ini tidak akan terlalu signifikan. Terlebih, beberapa waktu lalu sempat terjadi supply dari minyak nabati lain seperti minyak kedelai.
Selain itu permasalahan mengenai peremajaan sawit rakyat kata Eddy, tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara produsen lain seperti Malaysia. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap produktivitas CPO di tahun 2024 mendatang.
“Di mana itu bukan menekan harga, justru nanti ada kekhawatiran di tahun 2024 supply akan berkurang, sehingga akan menyebabkan harganya bisa berubah dan bisa naik di tahun depan,” imbuh dia.
Sumber: gapki.id














