Jakarta, SAWIT INDONESIA - Kenaikan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global mulai mendorong harga di dalam negeri. Namun, pelaku industri menilai peningkatan harga tersebut belum tentu langsung berdampak signifikan terhadap profitabilitas perusahaan, karena biaya produksi juga berpotensi ikut naik.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan harga CPO di dalam negeri saat ini berada di kisaran Rp15.000 per kilogram. Meski demikian, dampaknya terhadap keuntungan perusahaan sangat bergantung pada perkembangan biaya produksi ke depan.
Menurutnya, sejumlah komponen biaya seperti pupuk, bahan bakar, hingga ban alat berat berpotensi mengalami kenaikan, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
“Memang saat ini harga di dalam negeri naik di sekitar Rp15.000-an. Tetapi apakah ini meningkatkan profitabilitas atau tidak, sangat tergantung pada kenaikan biaya produksi. Pupuk, bahan bakar, ban, dan komponen lain kemungkinan juga akan naik, namun kita belum tahu seberapa besar kenaikannya,” ujar Eddy saat dihubungi, Selasa (10 Maret 2026).
Di sisi lain, permintaan CPO dari sektor biodiesel di dalam negeri diperkirakan relatif stabil. Pemerintah telah menetapkan kebijakan mandatori biodiesel B40, yang mengatur alokasi produksi bagi masing-masing produsen.
Eddy menjelaskan bahwa kebutuhan bahan baku biodiesel domestik sudah ditentukan oleh pemerintah sehingga volume permintaan dari program tersebut cenderung tidak berubah.
“Permintaan CPO untuk biodiesel di dalam negeri saya rasa tidak berubah karena sudah ada mandatori B40. Semua sudah diatur pemerintah, masing-masing produsen harus memproduksi berapa. Penambahan atau tidaknya itu pemerintah yang menentukan,” katanya.
Sementara itu, di pasar global harga minyak sawit mendapat dorongan dari kenaikan harga minyak mentah di tengah konflik di Timur Tengah. Data bursa menunjukkan harga kontrak CPO acuan untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 3,7 persen pada 6 Maret menjadi 4.365 ringgit Malaysia per ton atau sekitar US.105,9 per ton.
Kenaikan tersebut terjadi seiring menyempitnya selisih harga antara minyak sawit dan gasoil, indikator margin bagi produsen biofuel. Selisih harga yang dikenal sebagai PO-GO spread tercatat sekitar US7,96 per ton pada 6 Maret, atau menyempit sekitar 44 persen dibandingkan posisi pada 27 Februari. Sepanjang 2025, rata-rata selisih harga tersebut berada di kisaran US8,45 per ton.
Menyempitnya selisih harga tersebut dinilai dapat meningkatkan daya tarik produksi biodiesel karena margin menjadi lebih kompetitif. Kondisi ini berpotensi mendorong produsen biofuel meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan yang meningkat.
Meski demikian, Eddy menilai peningkatan produksi biodiesel juga tidak serta-merta terjadi, mengingat produksi CPO nasional saat ini relatif stagnan.
Jika pemerintah meningkatkan mandatori biodiesel hingga B50, menurutnya, dampak paling realistis adalah penurunan volume ekspor.
“Kalau produksi stagnan tetapi kebutuhan untuk B50 naik, sudah pasti yang akan dikurangi adalah ekspor. Artinya penerimaan dari pungutan ekspor juga akan turun,” ujarnya.
Padahal, pungutan ekspor tersebut selama ini menjadi sumber utama pembiayaan insentif atau subsidi biodiesel. Jika penerimaan dari pungutan tersebut berkurang, muncul pertanyaan mengenai sumber pendanaan tambahan untuk menutup kebutuhan subsidi.
“Kalau pungutan ekspor kurang, apakah APBN yang menggantikan? Rasanya tidak. Jadi yang paling memungkinkan saat ini tetap di B40,” kata Eddy.
Di tingkat hulu, kenaikan harga CPO juga berpotensi mendorong peningkatan harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani. Namun, kondisi geopolitik global tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena dapat memicu kenaikan biaya operasional di sektor perkebunan.
“Kalau harga CPO naik, biasanya harga TBS juga ikut naik. Tetapi dengan kondisi perang di Timur Tengah seperti sekarang, biaya juga hampir pasti ikut meningkat,” ujarnya.
Dengan dinamika tersebut, pelaku industri menilai prospek harga sawit tetap dipengaruhi berbagai faktor eksternal, mulai dari perkembangan konflik geopolitik, harga energi global, hingga kebijakan biodiesel domestik.














