• Jumat, 9 Oktober 2026
Berita Terbaru

Harga CPO Menguat, DSNG Optimistis Pertahankan Tren Positif hingga Akhir 2025

Jakarta, SAWIT INDONESIA - PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) berhasil membukukan kinerja solid sepanjang semester I/2025 dengan lonjakan laba bersih sebesar 81,85% menjadi Rp915,77 miliar. Lonjakan tersebut tak hanya didorong kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO), tetapi juga strategi diversifikasi bisnis dan efisiensi produksi yang ditempuh perusahaan.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juli 2025, pendapatan DSNG meningkat dari Rp4,7 triliun menjadi Rp6,08 triliun. Segmen kelapa sawit tetap menjadi motor utama, menyumbang 89% pendapatan. Produk kayu berkontribusi 10% dan energi terbarukan 1%.

Direktur Utama DSNG Andrianto Oetomo menyebut, pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan produksi tandan buah segar (TBS) 3,9% menjadi 1,1 juta ton dan peningkatan produksi CPO 4,9% YoY. Rata-rata harga jual CPO (ASP) juga menguat 19,3% YoY menjadi Rp14.575/kg.
“Kami optimistis tren permintaan CPO akan bertahan, didorong program B40 di dalam negeri dan pasar ekspor utama seperti India dan China,” jelasnya, Rabu (30 Juli 2025).

Selain kelapa sawit, DSNG mencatat pemulihan permintaan global untuk produk kayu, terutama dari AS, Eropa, dan Tiongkok. Segmen ini membukukan pendapatan Rp621 miliar, naik 11% YoY. Volume penjualan wood panel meningkat 12,4% menjadi 62.000 m³, sementara produk engineered flooring naik 5,2% menjadi 325.000 m².

Segmen energi terbarukan juga terus menjadi fokus jangka panjang. Perusahaan meraup Rp66 miliar dari ekspor cangkang sawit dan wood pellet ke Jepang, meskipun ekspor cangkang turun sementara akibat penundaan jadwal pengiriman ke semester II/2025.

Secara keuangan, DSNG mencatat kenaikan total aset menjadi Rp17,5 triliun, sementara liabilitas turun 7% YoY berkat pelunasan utang, mendorong ekuitas naik 6,7% menjadi Rp10,6 triliun.

Dengan fundamental yang menguat, strategi diversifikasi pendapatan, dan pasar global yang masih menyerap produk utama, DSNG menargetkan pertumbuhan berkelanjutan pada paruh kedua 2025.

Artikel Terkait