• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Hard Skill Kuat, Soft Skill Hebat, Formula SDM Sawit yang Dicari Industri

Jakarta, SAWIT INDONESIA — Industri kelapa sawit saat ini tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja yang menguasai aspek teknis budidaya dan pengolahan. Perusahaan juga mencari sumber daya manusia (SDM) yang memiliki mental tangguh, disiplin, mampu memimpin, dan siap menghadapi berbagai tantangan di lapangan sejak hari pertama bekerja.

Direktur Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (Poltek CWE), Nugroho Kristono, mengatakan keseimbangan antara hard skill dan soft skill menjadi kompetensi utama yang paling dibutuhkan industri sawit saat ini.

“Standar kompetensi utama SDM sawit adalah keseimbangan antara hard skill dan soft skill. Pengetahuan teknis memang penting, tetapi kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, disiplin, dan etos kerja juga sangat menentukan keberhasilan seseorang di dunia kerja,” kata Nugroho saat menjadi pembicara dalam Media Briefing Beasiswa SDM Sawit 2026 di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Poltek CWE menerapkan model pendidikan yang menggabungkan pembelajaran teori dengan praktik lapangan secara intensif. Sebanyak 50 persen dosen yang mengajar berasal dari kalangan praktisi industri sehingga mahasiswa mendapatkan pemahaman langsung mengenai kondisi dan tuntutan dunia kerja.

Tidak hanya belajar di ruang kelas, mahasiswa juga diwajibkan menjalani praktik lapangan di perkebunan sawit. Saat ini, sebagian mahasiswa tengah mengikuti program praktik selama satu bulan di kebun sawit seluas 10 hektare di Subang, Jawa Barat.

Menariknya, mahasiswa tidak ditempatkan di fasilitas yang nyaman layaknya karyawan perusahaan. Mereka tinggal di tenda lapangan untuk merasakan langsung kehidupan di perkebunan dan melatih daya tahan fisik maupun mental.

“Kami sengaja tidak menyediakan fasilitas seperti mess perusahaan. Mahasiswa tinggal di tenda sehingga mereka belajar bertahan hidup sekaligus memahami kondisi nyata bekerja di perkebunan,” ujar Nugroho.

Selama praktik, mahasiswa menjalankan berbagai posisi yang biasa ditemui dalam operasional kebun, mulai dari tenaga panen, mandor, asisten hingga asisten kepala kebun (askep). Mereka juga mengikuti rutinitas kerja perkebunan, termasuk kegiatan lingkaran pagi yang dimulai sejak pukul 05.00 WIB.

Dikatakan Nugroho, pengalaman tersebut menjadi bekal penting agar lulusan tidak mengalami kesulitan saat memasuki dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi telah merasakan langsung ritme kerja dan tantangan yang dihadapi pekerja perkebunan setiap hari.

“Anak-anak mengalami sendiri bagaimana menjadi tenaga panen, mandor, hingga staf kebun. Mereka tidak sekadar belajar, tetapi menjalankan peran tersebut secara nyata di lapangan,” katanya.

Selain kompetensi teknis, Poltek CWE juga memberi perhatian besar pada pembentukan karakter mahasiswa. Program pembinaan mental, fisik, dan kedisiplinan menjadi bagian integral pendidikan, terlebih mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

Sebagai bagian dari pembinaan karakter, seluruh mahasiswa tahun pertama diwajibkan tinggal di asrama. Kampus juga memiliki sistem pendampingan khusus bagi penerima beasiswa untuk memastikan perkembangan akademik maupun perilaku mahasiswa tetap terjaga.

Menurut Nugroho, langkah tersebut penting mengingat generasi muda saat ini menghadapi berbagai tantangan sosial, mulai dari judi online, pinjaman online, penyalahgunaan narkoba hingga gaya hidup konsumtif.

“Kami ingin mencetak SDM sawit yang kuat secara mental, sehat secara fisik, disiplin, dan bangga terhadap profesinya. Industri membutuhkan tenaga kerja yang siap terjun ke lapangan, bukan hanya unggul secara akademik,” tegasnya.

Melalui kombinasi pembelajaran berbasis praktik, keterlibatan praktisi industri, serta pembinaan karakter yang intensif, Poltek CWE berupaya menghasilkan lulusan yang siap menjawab kebutuhan industri sawit nasional yang terus berkembang dan membutuhkan SDM kompeten dalam jumlah besar.

Artikel Terkait