• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Gelar The 5th ICNREC, Pusaka Kalam Kumpulkan Ahli Bahas Penyelesaian Isu Sosial Ekonomi dan Lingkungan di Industri Sawit

Bogor, SAWIT INDONESIA – Pusaka Kalam kembali mengadakan The 5th International Conference on Natural Resources and Environmental Conservation (ICNREC) yang berlangsung hybrid di IPB International Convention Center, Bogor, Selasa (12 November 2024).

Tahun ini, forum berskala internasional ini menampilkan tema “Indonesian Oil Palm Plantations: Socioeconomic Benefits, Gender Issues, and Emerging Conflicts”, yang menghadirkan narasumber dari pembuat kebijakan, pelaku industri, dan peneliti dengan topik pembahasan dari aspek sosial ekonomi, lingkungan, dan gender di industri kelapa sawit Indonesia.

Anggota Tim Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, MT, mengatakan industri kelapa sawit sebagai salah satu pilar utama perekonomian Indonesia. Tak hanya memberikan kontribusi besar terhadap PDB dan devisa negara, tetapi juga memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Namun, tantangan yang dihadapi, seperti konflik lahan dan ketimpangan sosial, harus segera diatasi melalui pendekatan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

ICNREC 2024 diselenggarakan oleh PUSAKA KALAM bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University dan CIRAD, serta didukung oleh BPDPKS, PT. Sampoerna Agro, PT SMART, GAPKI, PT Astra Agro Lestari, dan APKASINDO.

Dalam pidato pembukaannya, Prof. Dr. Ir. Naresworo Nugroho, MS, Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, menjelaskan bahwa perlu keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial.

“Konferensi ini menjadi platform penting untuk mencari solusi holistik bagi tantangan multifaset di sektor kelapa sawit,” ujarnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Helena Varkkey dari Universiti Malaya, Jean-Marc Roda dari CIRAD, Taco Bottema dari PT. Ekotalis Teknologi Indonesia, Lee Ser Huay Janice Teresa dari Nanyang Technological University, Bart W van Assen dari KAYON, dan Linda Rosalina dari Transformasi untuk Keadilan Indonesia (TuK Indonesia).

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi keynote yang disampaikan oleh pembicara dari berbagai negara dengan latar belakang yang berbeda, guna membahas berbagai tantangan dalam industri perkebunan kelapa sawit.

Perwakilan dari France Agriculture Research Center for International Development/CIRAD, Tako Bottema, menyoroti dinamika kompleks industri kelapa sawit Indonesia, sektor yang telah mengalami peningkatan pesat dalam 40 tahun terakhir yang berdampak besar pada lanskap pedesaan dan ekonomi negara ini.

Senada dengan Assen, Lee Ser Huay Janice Teresa dari Nanyang Technological University menjelaskan bahwa petani memainkan peranan penting dalam industri minyak kelapa sawit dan mencakup sekitar 40% perkebunan kelapa sawit Indonesia.

Pada tingkat rumah tangga, minyak kelapa sawit berkontribusi pada berbagai tingkat kekayaan bagi petani kecil. Pada tingkat regional, perubahan dalam pembangunan ekonomi dalam produksi sawit memiliki efek langsung dan tidak langsung pada bagaimana pendapatan dan ekonomi regional perkembangan.

Setelah sesi keynote, acara dilanjutkan dengan sesi paralel (32 paper presenter) yang terbagi menjadi tiga meeting room dan satu ballroom. Sesi ini memberikan ruang diskusi yang lebih spesifik sesuai dengan subtema konferensi.

Selain manfaat sosial-ekonomi yang signifikan, seperti penciptaan 4,5 juta lapangan kerja, konferensi ini juga menyoroti tantangan distribusi keuntungan yang tidak merata, di mana petani kecil sering menghadapi harga pasar yang fluktuatif dan akses terbatas ke sumber daya.

Artikel Terkait