Jakarta, SAWIT INDONESIA – Satu bulan lagi, The 22nd Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2026 akan berlangsung pada 11–13 November 2026 di Bali International Convention Center (BICC), The Westin Resort Nusa Dua, Bali. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menargetkan jumlah pengunjung mencapai 2.000 orang dari dalam dan luar negeri.
“Tahun-tahun sebelumnya, jumlah peserta antara 1.000 sampai 1.500 orang. Namun di tahun ini, kami harapkan dapat naik menjadi 2.000 peserta,” ujar Bendahara Umum GAPKI Mona Surya, dalam jumpa pers IPOC 2026, pekan lalu.
Menurutnya, IPOC tahun ini akan lebih menarik karena menyajikan sederet isu dan topik yang akan mempengaruhi industri sawit global. Antara lain kawasan hutan dan status lahan, tata kelola ekspor,dan program mandatori biodiesel.
“Hasil dari IPOC ini akan kita kirimkan kepada pemerintah. Kita berharap pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam konferensi ini, terutama untuk perbaikan, kita sampaikan kepada pemerintah. Intinya kita menuju bagaimana supaya ini menjadi lebih baik, kekhawatiran-kekhawatiran ini tidak terjadi, dan ke depan ada kebijakan-kebijakan yang lebih baik,” ujar Mona.
Mona juga menyoroti ancaman El Nino, yang menurut informasi yang ia terima jauh lebih parah dibandingkan El Nino sebelumnya. Dampaknya mulai terasa di lapangan. Ia baru kembali dari kebun dan mendapati berat janjang rata-rata (BJR) turun 17 hingga 20 persen hanya dalam dua bulan.
“Buah di pokok sudah banyak, tetapi karena tidak turun hujan, buahnya tidak terbentuk. Itu akan sangat memengaruhi produksi tahun depan,” jelasnya.
Mona bahkan menilai proyeksi produksi GAPKI untuk 2027 sebesar 56,6 juta ton masih berpotensi lebih rendah. “Berdasarkan data kita memang 56,6 juta ton, tapi saya tidak yakin. Mungkin bisa 55 juta ton. Memang agak sulit mengukur kepastian produktivitas kita, apalagi dipengaruhi iklim dan banyak faktor lain,” katanya.














