Jakarta, SAWIT INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) terus berupaya mewujudkan sawit menuju Indonesia Emas 2045. Melalui berbagai program, salah satunya kerjasama dengan International Labour Organization (ILO), dan pemerintah Amerika dalam rangka peningkatan keberlanjutan sawit dari aspek perburuhan (decent work).
Ketua Bidang Pengembangan SDM - GAPKI, Sumardjono Saragih menjelaskan ini adalah kerjasama antara GAPKI dengan ILO dan pemerintah Amerika. “Kesempatan ini yang harus dimanfaatkan secara optimal. Inisiatif ini juga akan menjadi sumbangan besar sawit menuju Indonesia Emas 2045. Tidak berlebihan, perkebunan sawit di perdesaan akan menjadi kunci mewujudkan generasi emas 2045,” jelasnya, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sawitindonesia.com.
Inisiatif ini bakal diberinama SCOPE SITALASARI, sebagai bagian dari program Simalungun Marharoan Bolon. SITALASARI terinsiprasi dari judul lagu simalungun yang sangat populer. Bila dirangkai jadi kalimat: Simalungun Tanah Leluhur Sawit untuk Generasi.
Diungkapkan Sumardjono, melalui program ini kabupaten Simalungun akan menjadi model percontohan sawit bagi Indonesia dan dunia. Sawit yang melindungi, menghormati dan mengembangkan sumberdaya manusia (pekerja). Sawit tanpa pekerja anak; ada kesetaraan jender; kondisi kerja layak; sadar K3 dan ada jaminan sosial.
“Menghadang atau menopang adalah pilihan. Uni Eropa tak henti menghadang bahkan bisa membunuh sawit. Salah satunya terbaru adalah EUDR, aturan sawit tanpa pembukaan hutan. Di sisi lain, Pemerintah Amerika terus memperluas dan memperpanjang dukungan dan menawarkan tambahan dana atas program yang sudah dimulai sejak 2016. Mendukung peningkatan keberlanjutan sawit dalam aspek perburuhan (decent work),” ungkapnya.
Dalam program baru ILO memilih kabupaten Simalungun sebagai percontohan sawit dunia. Untuk diingat, Simalungun (Marihat) adalah tanah leluhur sawit Indonesia. Kata Simalungun memang kalah populer dari Marihat. Marihat adalah bagian dari Kabupaten Simalungun dan tercatat pernah ada Pusat Penelitian Marihat untuk sawit (teh dan karet). Menjadi cikalbakal PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit). PPKS kini menjadi pusat penelitian dan produsen benih yang dibanggakan. Beberapa benih unggul diberinama DXP Marihat dan DXP Simalungun.
Dari Kementerian Perburuhan Amerika, Carter Quinley mengutarakan, pemerintah Amerika sangat memperhatikan hak-hak buruh di seluruh dunia. “Oleh karena itu kami mencarimitra yang bisa menjadi pemimpin untuk peningkatan kondisi perburuhan. Jadi kami bekerjasama dengan ILO menyatakan bahwa Indonesia dan Perusahaan (sawit) adalah pemimpin dalam aspek ketenaga kerjaan" ujarnya.
Tawaran kerja sama pemerintah melalui ILO disambutbaik oleh Bupati Simalungun, Radiapoh Sinaga. Pihaknya mendukung program percontohan ini. Kabupaten Simalungun ingin tetap bagian penting dalam perjalanan sawit. “Sebuah program percontohan kepatuhan sosial (ketenaga kerjaan). Ini adalah pertama di dunia. Dilakukan secara tripartit (Pemerintah, Pekerja dan Pengusaha). Semoga dapat mewujudkan kesejahteraan pekerja dan petani sawit,” katanya.














