• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

GAPKI Kalteng Dorong Mekanisasi untuk Tingkatkan Daya Saing Industri Sawit

Seruyan, SAWIT INDONESIA — Konsorsium Mekanisasi, Digitalisasi & Otomasi (MDO) menggelar kegiatan benchmarking dan berbagi teknologi di kebun PT Binasawit Abadipratama, Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Senin (26 Mei 2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antaranggota melalui agenda yang diselenggarakan secara bergilir di kebun perusahaan anggota.

Kegiatan itu merupakan bagian dari komitmen bersama anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) untuk saling mendukung, belajar, dan berbagi pengalaman dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi kerja, serta memperkuat daya saing industri sawit nasional di pasar global.

Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Tengah Rizki Djaya mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi pelaku industri sawit di tengah tantangan yang sedang dihadapi sektor tersebut.

"Kami atas nama GAPKI Kalteng sangat berterima kasih mendapat kesempatan melakukan kegiatan ini. Di Kalimantan Tengah ada anggota GAPKI dengan luas sekitar 814 ribu hektare dan 126 perusahaan anggota dari total 202 perusahaan yang ada di Kalteng," ujarnya.

Dia mengakui kondisi industri sawit saat ini menghadapi sejumlah tantangan, baik dari sisi pasar maupun regulasi. Namun, menurutnya, strategi teknis di tingkat produksi dapat menjadi langkah untuk menjaga kinerja industri.

"Dengan kondisi luar biasa saat ini, industri sawit sedang tidak baik-baik saja. Namun, dengan berbagai strategi teknis, sebagai insan produksi kita akan baik-baik saja. Mudah-mudahan regulasi yang ada akan semakin mendukung kita," katanya.

Rizki menambahkan Kalimantan Tengah memiliki potensi besar dalam industri sawit nasional mengingat wilayah tersebut menjadi provinsi dengan luas perkebunan sawit terbesar kedua setelah Riau.

"Karena kita harus percaya diri, sawit berkontribusi besar terhadap pendapatan asli daerah, terutama di Kalimantan," katanya.

Dia juga menyoroti kontribusi industri sawit terhadap ketahanan ekonomi nasional, termasuk pada masa pandemi Covid-19.

"Salah satu hal yang tidak bisa dilupakan, industri sawit menjadi sektor yang tetap bertahan dan tidak melakukan PHK saat pandemi Covid," ujarnya.

Menurut Rizki, agenda utama kegiatan tersebut adalah mencari berbagai strategi untuk meningkatkan produktivitas sawit melalui percepatan proses produksi, mekanisasi, dan pemanfaatan teknologi.

"Tujuannya adalah meningkatkan produktivitas kelapa sawit dengan berbagai strategi, mekanisasi, dan percepatan produksi yang ingin dicapai agar sawit berkelanjutan ini bisa terus dipertahankan di Indonesia," katanya.

Dia menambahkan Indonesia masih menjadi produsen sawit terbesar dunia dengan kontribusi sekitar 40% terhadap kebutuhan pasar global.

"Perkebunan sawit Indonesia adalah nomor satu di dunia. Kontribusi untuk memenuhi kebutuhan internasional mencapai 40%, sehingga patut mendapatkan perhatian," ujarnya.

Sementara itu, CEO PT Binasawit Abadipratama Benny Yusuf Setiawan mengatakan penerapan mekanisasi, digitalisasi, dan otomasi ditujukan untuk meningkatkan efektivitas operasional perkebunan.

"Mekanisasi, digitalisasi, dan otomasi membantu mempermudah pekerjaan-pekerjaan di lapangan yang selama ini banyak dilakukan secara manual," katanya.

Dia menjelaskan perusahaan juga menerapkan sejumlah strategi teknis, salah satunya melalui replanting rorak untuk meningkatkan produktivitas tanaman.

Menurut Benny, strategi tersebut menunjukkan peningkatan produktivitas yang signifikan dibandingkan target sebelumnya.

"Jika target sebelumnya pada usia 31-42 bulan setelah tanam menghasilkan sekitar 10 ton, saat ini bisa meningkat menjadi 15 ton bahkan mencapai 20 ton per hektare untuk hasil panen perdana," ujarnya.

Artikel Terkait