Jakarta, SAWIT INDONESIA – Industri kelapa sawit Indonesia bersiap menghadapi tantangan besar tahun ini. Pakar iklim dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Dr. Nuzul Hijri Darlan, memperingatkan adanya ancaman kemarau panjang yang diprediksi akan menekan produktivitas nasional secara signifikan.
Dalam forum "Ngobrol Bareng GAPKI" pada Selasa (7 April 2026), Dr. Nuzul memaparkan bahwa dampak El Niño yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya telah terbukti menurunkan produksi antara 6% hingga 60%. Untuk proyeksi jangka panjang tahun 2025-2026, penurunan produksi diperkirakan berada di angka 5-10% akibat cekaman kekeringan yang berkelanjutan.
"Tanaman akan mengalami cekaman kekeringan hebat jika hari tanpa hujan (dry spell) melebihi 20 hari atau terjadi defisit air lebih dari 200 mm per tahun," jelas Dr. Nuzul. Kondisi ini memicu gangguan fisiologis pada pohon, seperti aborsi bunga betina dan peningkatan bunga jantan, yang secara langsung mengurangi jumlah tandan yang bisa dipanen.
Menanggapi situasi ini, para pekebun disarankan untuk segera menyelesaikan agenda pemupukan pada Semester pertama terutama pupuk Kalium (MOP), guna meningkatkan daya tahan tanaman terhadap keterbatasan air.
Selain itu, pembangunan infrastruktur rorak dan manajemen penutup tanah menjadi kunci preventif untuk menjaga kelembapan lahan.














