Jakarta, SAWIT INDONESIA - Komoditas kelapa sawit dan turunannya (crude palm oil dan produk olahan) yang terangkum dalam kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) terus mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung utama neraca perdagangan Indonesia. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, ekspor komoditas ini menyumbang surplus fantastis senilai USD 24,91 miliar atau sekitar Rp446,31 triliun (jika kurs Rp17.917), sekaligus melontarkan total surplus perdagangan nasional menembus angka USD 7,25 miliar.
Kinerja tangguh sektor berbasis kelapa sawit ini terlihat makin menanjak pada Agustus 2026. Dalam sebulan, kelompok HS 15 mencatatkan porsi surplus terbesar yakni USD 3,95 miliar, mengungguli komoditas bahan bakar mineral (HS 27) sebesar USD 2,45 miliar serta besi dan baja (HS 72) sebesar USD 1,78 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan, dorongan kuat dari ekspor minyak sawit dan produk olahan manufaktur berhasil memicu lonjakan surplus bulanan Agustus 2026 hingga mencapai USD 3,55 miliar—melompat tajam dari surplus Juli 2026 yang tercatat sebesar USD 0,12 miliar.
“Melonjaknya surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026 membuktikan ketahanan sektor eksternal Indonesia yang terus terjaga. Surplus perdagangan ditopang oleh kinerja komoditas andalan seperti lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja,” ujar Mendag Budi Santoso dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (6 Oktober 2026).
Tingginya nilai tambah ekspor produk turunan sawit juga menjadi cermin keberhasilan program hilirisasi industri di dalam negeri. Secara kumulatif, total ekspor Indonesia pada Januari–Agustus 2026 mencapai USD 193,64 miliar (tumbuh 4,74 persen YoY), di mana sektor industri pengolahan termasuk di dalamnya olahan kelapa sawit menjadi motor penggerak dengan kontribusi mencapai 82,40 persen atau setara USD 159,55 miliar.
Pasokan produk olahan sawit dan komoditas manufaktur nasional berhasil merambah pasar-pasar utama dunia. Amerika Serikat mencatatkan diri sebagai penyumbang surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 dengan nilai USD 15,21 miliar, disusul India sebesar USD 9,15 miliar dan Filipina sebesar USD 5,48 miliar.
Di sisi lain, total nilai impor Indonesia pada periode Januari–Agustus 2026 mencapai USD 186,39 miliar. Kenaikan impor tersebut didominasi oleh kelompok bahan baku/penolong (naik 20,67 persen) dan barang modal (naik 18,82 persen). Hal ini menandakan industri manufaktur dalam negeri, termasuk pengolahan hasil perkebunan dan tambang, sedang bergeliat aktif melakukan ekspansi produksi untuk pasar ekspor.














