• Sabtu, 19 September 2026
Artikel

Dosen IPB University Beri Penjelasan Penggunaan Biopestisida dari Baculovirus, Efektif Basmi Populasi Hama

Penggunaan insektisida sintetik telah menjadi andalan utama petani dalam pengendalian Organisme Penganggu Tanaman (OPT). Petani lebih memilih metode ini karena dinilai efektif dan cepat dalam membasmi populasi hama. Namun demikian, penggunaan pestisida sintetis yang berlebihan memberikan banyak dampak dan implikasinya. Dampak tersebut mulai dari pencemaran lingkungan, residu bahan kimia pada tanaman pangan, hingga memunculkan hama sekunder. Pengembangan biopestisida dari bahan alami dapat menjadi alternatif untuk meminimalkan kerusakan tanaman tanpa memberikan dampak yang negatif. Salah satunya dengan pemanfaatan agen hayati entomopatogen yang dapat dikembangkan dari virus. Dr Yayi Munara Kusumah, dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman mengatakan mikroba entomopatogen ini memperoleh perhatian untuk digunakan sebagai biopestisida karena memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya kemudahan produksi dan aplikasi. “Persistensinya menjanjikan dan memilki kompatibilitas dengan lingkungan sehingga sejalan dengan pertanian berkelanjutan,” ujarnya dalam webinar ProPakTani “Pemanfaatan Virus dan Nematoda dalam Pengendalian OPT Tanaman Pangan” yang digelar oleh Direkorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan RI, (20/12). Dr Yayi Kusumah melanjutkan, virus yang berpotensi besar dimanfaatkan sebagai agen hayati adalah Baculoviridae. Ia menyebut, virus ini mendapatkan perhatian penting karena sering ditemukan pada sebagian besar serangga hama. Hal ini menjadi faktor penting sebagai pengendali populasi hama. Potensinya sebagai insektisida bahkan telah diketahui sejak 75 tahun yang lalu. “Virus ini juga sesuai untuk dikombinasikan dengan bioagen lain secara sinergis, bahkan dengan insektisida kimia sekali pun,” tambahnya. Lebih lanjut, Dr Yayi menjelaskan beberapa keuntungan menggunakan entomopatogen daripada insektisida kimia antara lain lebih spesifik inang. Ia mengklaim, entomopatogen ini aman bagi manusia dan hewan serta mengurangi residu racun. “Alasan penting lain untuk memiliki Baculovirus sebagai agen pengedali OPT karena cenderung stabil apabila disimpan sebagai suspensi maupun bubuk. Virus ini juga tahan terhadap bahan kimia dan mampu bertahan selama bertahun-tahun,” tambah Dr Yayi Munara Kusumah. Salah satu kelompok Baculovirus adalah NPV (Nuclear Polyhedrosis Virus) yang banyak ditemukan menyerang larva serangga hama. Beberapa NPV yang banyak diteliti di Indonesia antara lain Spodoptera exigua NPV (SeNPV) yang banyak diaplikasikan pada tanaman bawang di Brebes. Pemanfaatan ini merupakan upaya kerja sama IPB University dengan petani bawang binaan IPB University. Sumber: ipb.ac.id

Artikel Terkait