• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Dorong Produktivitas, TPA Implementasikan Teknologi Penginderaan Jauh

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh penting untuk diterapkan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit. Upaya ini telah dilakukan oleh PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) atau TPA melalui Teladan Productivity Technology Science (TPTS). Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan hasil perkebunan kelapa sawit sesuai dengan potensi lahan tertanam, sehingga produksi bisa ditingkatkan tanpa pembukaan lahan baru. Cara ini sekaligus untuk memenuhi aspek keberlanjutan dalam menjalankan usaha TPA.

Untuk mengetahui lebih lanjut cara kerja dan penerapan teknologi penginderaan jauh melalui TPTS, TPA telah menyelenggarakan Teladan Talks dengan tema Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh/Remote Sensing pada tanggal 9 Januari 2026dengan pemateri Head of Precision Agriculture Section TPA, Sali Subakti. Ia mengatakan saat ini TPTS telah mampu memantau seluruh area operasional perkebunan kelapa sawit TPA yang tersebar di wilayah Kabupaten Berau, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Paser melalui system pemantauan kebun berbasis citra satelit dan drone.

Dalam praktiknya, TPTS mengumpulkan dan memonitor data serta informasi produktivitas dan kultur teknis, anomali iklim/cuaca, kesehatan tanaman, status hara, infensi hama dan penyakit hingga aspek perubahan lingkungan areal perkebunan dan faktor lainnya yang dapat memengaruhi potensi dan pencapaian produksi dan hasil produk kelapa sawit perusahaan. Akuisisi data dan informasi multi-kompleks yang terkumpul tersebut selanjutnya diolah menggunakan algoritma model pembelajaran mesin/mendalam atau machine learning/deep learning (ML/DL) yang menjadi landasan dalam pengoperasian artificial intelligence (AI) sistem deteksi/prediksi dalam TPTS.

Berbasis informasi big-data analytic/science tersebut,manajemen dan tim operasional/lapangan dapat secara cepat mengetahui kondisi variabilitas areal dan anomali kesehatan tanaman serta potensi areal terkini. Selanjutnya, dari data yang dihimpun, tim di lapangan akan melakukan proses ground-check/thruthing untuk konfirmasi/validasi terhadap indikasi faktor-faktoryang berpotensi dapat membatasi dan menyebabkan kesenjangan produksi/yield gaps dan hasilspesifik(site-specific yield potential) di setiap blok tanaman kebun pada 3 hingga 24 bulan ke depan.

Sali menjelaskan, melalui sistem informasi deteksi dan prediksi TPTS tersebut, seorang Estate Manager dan Asisten secara cepat dan proaktif dapat mengarahkan tim supervisi/karyawan lapangan untuk fokus dan memberikan solusi atas permasalahan di blok areal tersebut secara lebih proaktif dan presisi berbasis data (data-driven based management). Selanjutnya, tim TPTS melalui controll room yang berada di kantor pusat TPA mengukur dampak anomali lingkungan seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO), fenomena suhu/hujan ekstrim serta mikroklimat blok, jeda waktu/lag-time period terhadap terhadap variabel indeks vegetasi/kesehatan tanaman, fresh fruit bunch FFB Loss Index (FFBI), serta kondisi cadangan air/water storage di setiap blok produksi.

”Hal ini sangat penting karena iklim dan lingkungan merupakan faktor dinamis yang sangat sulit diprediksi (uncontrollable factors) namun sangat memengaruhi kondisi kesehatan tanaman dan proses pembentukan jumlah dan berat janjang per pokok atau produksi tandan buah segar (TBS) di setiap blok tanam yang spesifik dan unik. Halini menjadi cikal bakal terwujudnya hybrid-system prediksi TPTS untuk mendukung penguatan hasil sensus produksi periodik yang sudah mulai diuji-implementasi pada tahun 2025 yang paralel dengan proses ground thruthing kalibrasi model dan evaluasi error melalui proses ground thruthing,” kata Sali dalam Teladan Talks edisi ke-8.

“Ada lebih dari 8 juta pokok di dalam lahan sawit yang dikelola oleh operasional. Melalui TPTS, perusahaan memantau jutaan pohon sawit tersebut secara cepat tanpa harus mendatangi satu per-satu. Pemanfaatan remote sensing menjadi sebuah keharusan mengingat kita berhadapan langsung dengan variabilitas spasial dan temporal yang ada di lapangan,” ujar Sali.

Dari sisi keberlangsungan usaha, Sali mengatakan dengan TPTS dan eksekusi yang tepat sasaran melalui kerangka site-specific nutrient management (SSNM) di lapangan, akan menjadi pembuktian bahwa black campaign terkait sawit yang selama ini menjadi sentimen negatif bagi keberlangsungan usaha industri kelapa sawit (deforestasi) dapat dijelaskan secara objektif dan ilmiah. Selain itu, sentimen seperti fluktuasi harga serta budget biaya produksi yang terus meningkat dapat diadaptasi melalui peningkatan kualitas data dan investasi teknologi TPTS yang terus meningkat ke depan.

Di sisi lain, Sali menambahkan TPTS mendorong pendekatan proses yang reaktif menjadi proaktif atau pendekatan yang memberikan perlakuan dengan tepat sasaran dan presisi sesuai kebutuhan setiap pokok tanaman sawit (misalnya pada aplikasi pupuk). Dengan begitu, melalui penerapan deteksi di TPTS manajemen dan tim operasional di lapangan dapat melakukan Intervensi presisi secara cepat. Sebab, Sali bilang setiap blok memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda.

“Dengan berbasis kualitas data TPTS dan dukungan teknologi, dosis pupuk dan pestisida diberikan dapat mengakomodir prinsip 5T dan memenuhi aspek keseimbangan/minimum hara, yang dapat mengurangi pemborosan input sekitar 20%-30%. Basis teknologi yang diadopsi TPTS ini telah mengubah pola tradisional pengelolaan operasional di lapangan yang sering bersifat reaktif (habit-based) atau seragam menjadi prediktif dan proaktif berbasis data-driven management (no, one size fits all),” kata Sali.

“Penerapan teknologi remote sensing dengan sensor multispectral/hiperspektral dalam TPTS ini seperti ‘mata elang’ di langit kebun TPA’ yang membantu kami untuk mengetahui apa yang tidak terlihat dengan mata telanjang terhadap kondisi setiap jengkal lahan dan setiap titik tanam sawit di lapangan. Dengan demikian, kita bisa mendapatkan informasi tersebut secara cepat, realtime dan tervalidasi dengan tingkat akurasi yang tinggi bahkan mencapai confidence level di atas 95% dengan sensor super resolusi tinggi,” ujarnya.

Kata Sali dari data-data yang telah dihimpun melalui citra satelit, TPTS juga terus melakukan proses ground-thruth/block task-scouting dengan observasi tim maupun menggunakan pemantauan drone untuk mendapatkan konfirmasi dan validasi data hingga memiliki tingkat akurasi yang sangat baik bahkan hingga level individual setiap titik tanam/pohon kelapa sawit melalui pengembangan SSNM dan geocoding Tree-ID TPTS.

“TPTS menjadi semangat dan amanah bagi insan TLDN bahwa setiap pokok yang ditanam harus dijaga dan dirawat karena setiap pokok sangat berarti ‘every palm matters,’” tutup Sali.

Sumber: teladanprima.com

Artikel Terkait