• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

Distribusi B50 Pertamina Capai 95%, Indonesia Kukuhkan Diri Jadi Pionir Global Biofuel Berbasis Sawit

Bantul, SAWIT INDONESIA - Distribusi mandatori Biodiesel 50% (B50) di jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di seluruh Indonesia kini telah mencapai 95%. Sisa sekitar 5% wilayah yang belum sepenuhnya mendistribusikan B50 saat ini masih berada dalam fase transisi akhir untuk menghabiskan sisa stok B40, yang terutama terkonsentrasi di kawasan regional Maluku dan Papua dengan ketahanan stok sebelumnya yang cukup tinggi.

Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menyatakan optimismenya bahwa seluruh wilayah di tanah air akan rampung 100% mendistribusikan B50 pada akhir September atau Oktober mendatang.

"Kami menargetkan pada akhir September atau Oktober ini, seluruh wilayah sudah 100% mendistribusikan B50," kata Eko dalam Temu Media Nasional Subholding Downstream di Pertamina Fuel Terminal Rewulu, Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9/2026).

Eko memastikan bahwa progres distribusi biosolar ini dilaporkan secara berkala kepada kementerian, lembaga terkait, serta para stakeholder pengawas. Program strategis inisiatif B50 yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juli lalu dijalankan sebagai amanah kepada Pertamina Patra Niaga untuk menuntaskan masa transisi dari B40 menuju B50 dalam tenggat waktu tiga bulan.

Lebih lanjut, Eko menegaskan bahwa implementasi B50 menjadikan Indonesia sebagai negara pionir—bahkan satu-satunya di dunia—yang sukses mengimplementasikan biofuel berbasis minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil / CPO) hingga taraf campuran 50 persen. "Pertamina Patra Niaga selalu siap mendukung roadmap pemerintah, bilamana ketersediaan bahan baku sawit mencukupi, tidak menutup kemungkinan transisi dapat berlanjut ke B60 hingga B100 secara bertahap," imbuhnya.

Dari sudut pandang makroekonomi, kebijakan ambisius ini diestimasi mampu menghilangkan sekitar 18 juta kiloliter impor solar serta memangkas kebutuhan devisa hingga sekitar Rp170 triliun. Director of Insight Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, menilai bahwa manfaat masif tersebut menjadikan B50 bukan sekadar instrumen substitusi impor, melainkan bagian fundamental dari transformasi industri nasional.

Menurut Fakhrul, penghematan devisa yang dihasilkan dari program B50 terbukti mampu meredam tingkat sensitivitas Indonesia terhadap fluktuasi harga minyak global sekaligus menekan kebutuhan pembiayaan eksternal. Kendati demikian, para pelaku industri sawit sebelumnya turut mengingatkan agar percepatan transisi energi ini tetap berjalan selaras dengan kemampuan produksi hulu serta ketersediaan pasokan bahan baku yang berkelanjutan.

Sumber: ekonomi.bisnis.com

Artikel Terkait