Palembang, SAWIT INDONESIA — Peningkatan kompetensi petani dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 ’Pelatihan panen dan Pascapanen Kelapa Sawit’ yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) difasilitasi Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), dan dilaksanakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), petani didorong untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan.
Hal tersebut disampaikan Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, SP., MP., saat membuka Pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit bagi 122 petani dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, pada Senin (8 Juni 2026), di salah satu hotel di Palembang.
Menurut Dr. Sri Gunawan, Indonesia saat ini memiliki sekitar 16,8 juta hektare perkebunan kelapa sawit dan menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Posisi strategis tersebut harus dipertahankan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama petani sebagai pelaku utama di sektor hulu.
“Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia yang saat ini masih menjadi nomor satu di dunia. Karena itu, produktivitas dan daya saingnya harus terus dijaga agar tidak mengalami nasib seperti sejumlah komoditas lain yang kini bergantung pada impor,” ujarnya.
Ia mengapresiasi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Pemerintah Kabupaten OKI yang aktif mengusulkan peserta pelatihan sehingga setiap tahun menjadi salah satu daerah dengan jumlah peserta pelatihan sawit terbanyak di Indonesia.
“Keaktifan dinas provinsi dan kabupaten sangat menentukan. Jika tidak diusulkan, tentu petani tidak akan mendapatkan kesempatan mengikuti program peningkatan kapasitas seperti ini,” katanya.
Lebih lanjut, Dr. Sri Gunawan menjelaskan, selama lima hari pelatihan peserta akan mendapatkan materi terkait teknik panen yang benar, penanganan pascapanen, pengangkutan TBS hingga pengelolaan mutu buah sebelum dikirim ke pabrik kelapa sawit.
Menurutnya, aspek panen dan pascapanen menjadi sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap rendemen dan harga jual TBS yang diterima petani.
“Tujuan utama pelatihan ini adalah meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan kompetensi petani agar produktivitas kebun meningkat dan pada akhirnya kesejahteraan petani juga ikut naik,” ujarnya.
Ia menilai tantangan yang dihadapi petani sawit saat ini masih cukup kompleks, mulai dari penggunaan bibit tidak bersertifikat, rendahnya produktivitas kebun rakyat, hingga fluktuasi harga TBS. Karena itu, petani didorong untuk menerapkan praktik budidaya yang baik dan menjaga kualitas hasil panen agar mampu bersaing di tengah perubahan dinamika industri sawit nasional.
Dr. Sri Gunawan juga mengingatkan pentingnya penguatan kelembagaan petani melalui koperasi atau kelompok tani. Menurutnya, pengelolaan pemasaran TBS secara kolektif akan memberikan posisi tawar yang lebih baik dibandingkan penjualan secara individu.
“Petani harus berkelompok dan membangun koperasi yang sehat serta mandiri. Dengan kelembagaan yang kuat, kualitas buah dapat dijaga, volume penjualan lebih besar, dan posisi tawar terhadap pabrik juga menjadi lebih baik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Sri Gunawan turut mengajak para petani memanfaatkan Program Beasiswa SDM Sawit yang didanai BPDP. Program tersebut memberikan kesempatan kuliah gratis bagi anak pekebun, keluarga pekebun, pekerja perkebunan, penyuluh, maupun aparatur yang terkait dengan sektor sawit.
Ia berharap para peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh dan menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing.
“Kesempatan ini sangat berharga. Ikuti pelatihan dengan baik agar kompetensi meningkat, produktivitas naik, dan kesejahteraan petani sawit semakin baik,” tutupnya.














