• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Di Tengah Tekanan Global, Ekspor Sawit Indonesia Naik Jadi Rp500 Triliun

Jakarta, SAWIT INDONESIA — Industri kelapa sawit nasional tetap menunjukkan kinerja positif di tengah berbagai tekanan global. Sepanjang 2025, nilai ekspor sawit Indonesia mencapai sekitar US,87 miliar (Sekitar Rp500 triliun) atau meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar sekitar US,76 miliar (Rp440 triliun).

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan volume ekspor sawit Indonesia pada 2025 juga meningkat menjadi sekitar 32,3 juta ton. Capaian tersebut menunjukkan daya tahan industri sawit meski menghadapi berbagai tantangan global dan domestik.

“Industri sawit ini luar biasa dan menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Ini industri strategis yang harus dijaga,” ujar Eddy dalam acara jumpa pers dan buka puasa bersama di Jakarta, Kamis (12 Maret 2026).

Meski mencatatkan kinerja ekspor yang meningkat, industri sawit masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mulai diberlakukan oleh Uni Eropa.

Eddy menilai banyak petani sawit Indonesia belum sepenuhnya siap menghadapi kebijakan tersebut, terutama terkait aspek legalitas lahan. Karena itu, ia mendorong pemerintah mempercepat penyelesaian persoalan legalitas agar tidak menghambat ekspor sawit Indonesia.

Di sisi lain, dinamika geopolitik juga memengaruhi rantai pasok perdagangan sawit global. Konflik di Timur Tengah membuat sebagian jalur distribusi ekspor melalui Selat Hormuz menjadi lebih berisiko.

Sekitar 1,83 juta ton ekspor sawit Indonesia selama ini melewati jalur tersebut. Kondisi tersebut memaksa sebagian pengiriman memutar melalui rute yang lebih panjang, seperti melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Akibatnya, biaya logistik dan asuransi untuk pengiriman ke Eropa meningkat hingga sekitar 50 persen. Meski demikian, Eddy mengatakan industri sawit nasional masih mampu bertahan di tengah tekanan tersebut.

Saat ini, produk sawit Indonesia telah menjangkau sekitar 177 negara tujuan ekspor. Selain pasar tradisional seperti Asia dan Eropa, permintaan dari kawasan Afrika juga menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.

Eddy menegaskan industri sawit merupakan aset strategis bagi Indonesia, bukan sekadar komoditas ekspor. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah dapat menjaga iklim kebijakan yang kondusif agar industri ini tetap kompetitif di pasar global.

“Jangan sampai kebijakan yang kurang kondusif justru melemahkan industri sawit hingga akhirnya hanya menjadi cerita sejarah,” ujarnya.

Artikel Terkait