Depok, SAWIT INDONESIA – Industri sawit Indonesia dinilai kian strategis dalam mendorong transisi energi nasional. Tak hanya menopang program biodiesel untuk ketahanan energi domestik, sawit kini juga diproyeksikan menjadi bahan baku utama Sustainable Aviation Fuel (SAF) guna menekan emisi karbon sektor penerbangan.
Hal ini mengemuka dalam workshop jurnalis program Biodiesel Sawit 2026 sesi kedua yang digelar Majalah Sawit Indonesia dan didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Kegiatan bertemakan "Dukungan Program Biodiesel Bagi Kemandirian Energi dan Perekonomian Indonesia" digelar di Depok, Jawa Barat, Kamis (5 Februari 2026).
Kasub Divisi Riset dan Advokasi Kebijakan Institute for Palm Oil Studies (IPOSS) Dimas H. Pamungkas menilai pemanfaatan bahan bakar nabati berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis kelapa sawit menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus memperkuat posisi sebagai produsen biofuel global.
Dia menyebut, biofuel berkelanjutan seperti SAF dapat menyumbang hingga 65% pengurangan emisi karbon dalam industri aviasi.
“Permintaan SAF dunia akan meningkat sangat pesat. Secara global diproyeksikan mencapai 515 juta ton pada 2050. Ini akan menggantikan avtur secara bertahap,” ujar Dimas.
Menurutnya, lonjakan kebutuhan tersebut otomatis mendorong permintaan bahan baku atau feedstock yang memenuhi standar keberlanjutan CORSIA-ICAO. Indonesia dinilai memiliki keunggulan karena ketersediaan residu industri sawit yang melimpah.
Salah satu sumber potensial adalah Palm Oil Mill Effluent (POME), limbah cair pabrik kelapa sawit yang selama ini belum dimanfaatkan optimal. Organisasi penerbangan sipil internasional (ICAO) telah memasukkan POME dalam daftar positif bahan baku SAF.
“Kalau CPO hanya bisa mengurangi emisi sekitar 15%, FOME bisa sampai 70%. Jadi secara karbon jauh lebih efisien,” jelasnya.
Ia mendorong agar Indonesia mulai menerapkan kebijakan mandatori campuran SAF minimal 5% mulai 2027. Langkah ini dinilai krusial mengingat konsumsi avtur domestik mencapai 4-5 juta kiloliter per tahun.
Namun implementasi perlu disertai sistem traceability ketat agar bahan baku benar-benar berasal dari limbah, bukan dari minyak sawit utama. Selain itu, regulasi ekspor dan alokasi domestik juga perlu diatur ulang karena industri SAF nasional masih dalam tahap awal pengembangan.
“Potensinya besar sekali secara ekonomi. Jangan sampai kita terlambat masuk pasar,” tambahnya.
Sementara itu, peneliti IPB University, Dr. Gusti Artama Gultom, memaparkan hasil riset deret waktu 2015 - 2023 yang menunjukkan bahwa kebijakan biodiesel tidak berdampak signifikan terhadap kenaikan harga CPO domestik dalam jangka panjang.
Hal ini karena pemerintah menerapkan instrumen seperti bea keluar untuk menjaga pasokan dalam negeri.
Sebaliknya, kebijakan biodiesel justru terbukti berpengaruh positif terhadap harga tandan buah segar (TBS), baik dalam jangka pendek maupun panjang.
“Artinya pengembangan biodiesel membantu meningkatkan pendapatan petani sawit,” ujarnya.
Ia menambahkan, produksi CPO nasional diperkirakan mencapai puncak pada 2026-2029 sekitar 68 juta ton sebelum turun bertahap menjadi 54-55juta ton akibat penuaan tanaman dan terbatasnya perluasan lahan.
Di sisi lain, kebutuhan domestik terus meningkat seiring program mandatori energi terbarukan dan pengembangan industri hilir. Kondisi ini membuat Indonesia tak bisa lagi hanya mengandalkan ekspor.
“Biodiesel memberi kita pasar domestik yang kuat. Ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasar luar negeri yang fluktuatif. Apalagi pasar dunia terlalu banyak hambatan baik tarif maupun non-tarifnya,” kata Gusti.
Saat ini, Indonesia tercatat sebagai produsen biofuel terbesar keempat dunia setelah Amerika Serikat, Brasil, dan Uni Eropa.
Dengan potensi bahan baku melimpah, termasuk residu seperti POME, pengembangan SAF dinilai dapat menjadi babak baru industri sawit nasional tak hanya sebagai komoditas ekspor, tetapi juga tulang punggung transisi energi bersih.














