Palembang, SAWIT INDONESIA – Industri sawit mulai merasakan dampak konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel. Kegiatan pengapalan sawit mulai tersendat karena masalah biaya logistik yang mengalami kenaikan signifikan.
“Ekspor sawit bulan Maret 2026 bisa turun sekitar 1 juta ton dibandingkan bulan-bulan sebelumnya yang mencapai 2 juta ton lebih,” kata Eddy Martono, Ketua Umum GAPKI di sela-sela Andalas Forum VI di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (16 April 2026).
Menurut Eddy, penurunan ekspor sawit ini juga berdampak kepada Domestic Market Obligation (DMO) sebagai penyangga kebutuhan minyak goreng di dalam negeri.
Tantangan lain yang dihadapi industri sawit, kata Eddy, harga BBM industri mengalami kenaikan menjadi Rp 29 ribu/liter dari sebelumnya Rp15 ribu/liter. Begitupula, Pertamina dilaporkan mulai membatasi pengiriman BBM ke daerah.
“Kenaikan harga BBM ini juga mendongkrak semua biaya seperti angkutan produksi TBS pabrik sawit dan pengapalan CPO ke refineri. Ini semua membuat biaya operasional kebun naik,” jelasnya.
Di sektor pemasaran, menurut Eddy, biaya transportasi naik terutama tujuan Eropa karena harus mengelilingi benua Afrika dulu. Begitupula biaya Asuransi juga naik karena faktor keamanan dan keselamatan.
“Diperkirakan ada tambahan biaya logistic dan insurance sekitar 50 persen. Makanya ekspor sawit berpeluang turun di bulan Maret kemarin dibandingkan Februari 2026,” pungkasnya.














