• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Dabeeo dan IPB Jajaki Pengembangan AI Geospasial di Perkebunan Sawit

Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai diperluas penggunaannya oleh perkebunan sawit di Indonesia melalui teknologi geospasial, blockchain, hingga citra satelit. Dabeeo dan IPB menjajaki kerjasama pengembangan teknologi AI yang dapat mendukung peningkatan produktivitas sawit di Indonesia.

Peluang ini menjadi pembahasan kedua belah pihak melalui Workshop bertemakan “Strategic Synergy: Bridging Innovation through IPB and Dabeeo Collaborative Workshop” di IPB University, Bogor, pada pertengahan Juni 2026. Workshop tersebut menjadi momentum penting melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) umum antara IPB University dan Dabeeo, perusahaan teknologi informasi berbasis AI dan analisis geospasial asal Korea Selatan.

Kepala Lembaga Riset Internasional (LRI) Teknologi Maju IPB University, Prof. Dr. Ir. Anas Miftah Fauzi, M.Eng., mengatakan bahwa salah satu keunggulan utama teknologi Dabeeo adalah akurasi teknologi AI-nya dalam mendeteksi objek dan mengukur kesehatan tanaman yang sangat tinggi sehingga berpotensi besar diterapkan dalam berbagai sektor, termasuk perkebunan.

Menurutnya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk pemetaan wilayah secara lebih detail, pemantauan kondisi tanaman, hingga analisis kecukupan unsur hara pada perkebunan kelapa sawit. Selain itu, pengembangan deteksi perubahan (change detection) dan sistem pemantauan lingkungan yang dimiliki Dabeeo juga dinilai memiliki nilai strategis bagi pengelolaan perkebunan modern.

"Hari ini sudah disepakati MoU umum untuk mengakomodasi berbagai bentuk kerja sama. Secara prinsip, kami telah membicarakan pemanfaatan data spasial untuk tanaman sawit, mulai dari analisis kecukupan unsur hara hingga pemetaan yang lebih akurat. Bahkan ke depan bisa dikembangkan untuk mendeteksi penyakit Ganoderma agar kerusakan di perkebunan dapat diminimalkan dan penanganannya dilakukan lebih cepat," ujar Anas.

Ia juga mengingatkan bahwa IPB memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan teknologi satelit, termasuk peluncuran satelit LAPAN A3/IPB pada 2016. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi yang kini dibangun bersama Dabeeo.

Vice President and Head of the Earth Plantation (EP) Business Unit, Chang Moon mengharapkan kerjasama antara Dabeeo dan IPB dapat mendukung peningkatan produksi dan kinerja industri sawit di Indonesia. Dabeoo memiliki teknologi yang dapat mendukung analisis data perkebunan sawit untuk mendapatkan hasil yang akurat dan presisi.

“Harapan kami, kerjasama antara Dabeeo dan IPB dapat terjalin dengan baik serta memberikan benefit bagi kedua belah pihak,” urainya.

Head of Business Development Dabeeo Indonesia, Rizky Dantri, menjelaskan bahwa perusahaan yang berbasis di Korea Selatan tersebut secara khusus mengembangkan teknologi AI untuk analisis geospasial. Salah satu fokus pasar utama mereka di Indonesia adalah sektor perkebunan.

Menurut Rizky, Dabeeo mengembangkan enam model AI secara mandiri tanpa melibatkan pihak ketiga. Selama tiga tahun terakhir, teknologi tersebut telah diterapkan di sektor perkebunan dengan fokus pada tiga kebutuhan utama.

Pertama adalah “asset visibility”, yaitu kemampuan memperoleh data jumlah tanaman secara cepat dan akurat. Jika metode konvensional membutuhkan waktu hingga tiga bulan, teknologi AI Dabeeo mampu menyelesaikannya dalam waktu sekitar dua minggu sehingga data yang diperoleh lebih relevan dengan kondisi lapangan.

Kedua adalah pengendalian operasional di lapangan melalui aplikasi mobile yang tetap dapat digunakan meskipun tanpa jaringan internet. Dengan sistem tersebut, aktivitas lapangan tetap dapat dilaporkan dan dipantau secara real time dari kantor pusat.

Ketiga adalah “proactive action”, yakni kemampuan memantau tindak lanjut atau perlakuan yang telah dilakukan di lapangan melalui satu platform terintegrasi.

Dabeeo menawarkan tiga layanan utama bagi pelanggan perkebunan, yaitu “tree detection”, “health classification”, dan “change detection”. Selain itu Dabeeo juga menyediakan suatu sistem yang dapat mendeteksi tingkat kerapatan tanaman yang berpengaruh terhadap produktivitas, akses panen, serta kompetisi cahaya matahari antar tanaman.

Fitur yang disebut paling bernilai adalah “change detection”, yang memungkinkan identifikasi perubahan kondisi lahan secara cepat. Teknologi “geo-referencing” untuk “change detection” banyak digunakan dalam kegiatan replanting maupun thinning sehingga perusahaan dapat memantau perubahan kondisi kebun secara lebih akurat.

"Dengan dukungan 12 satelit dan basis data lebih dari 15 juta dataset, semakin tinggi resolusi citra yang digunakan maka semakin banyak pula analisis yang bisa dilakukan," ujar Rizky.

Sebagai tindak lanjut kerja sama dengan IPB, Dabeeo juga menyiapkan dukungan infrastruktur komputasi berupa GPU, server berbasis AWS, serta akses data satelit untuk mendukung kegiatan penelitian yang akan dilakukan di kebun untuk objek percobaan.

Dalam MoU tersebut, adapun peneliti IPB University yang hadir antara lain Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc (Fakultas Teknik dan Teknologi, IPB), Prof. Dr. Ir. Baba Barus, M.Sc (Kepala Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, LRI PSEK, IPB), Prof. Dr. Ir. I Wayan Budiastra (Kepala Pusat Penelitian Aplikasi Teknik dalam Pertanian Tropis, LRI TM, IPB), Prof. Dr. Ir. Yandra Arkeman (Kepala BRAIN, IPB), dan Dr. Yudi Setiawan (Kapala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, LRI LPI, IPB), turut memaparkan hasil penelitian yang telah dikembangkan bersama sejumlah mitra untuk mendorong inovasi berbasis teknologi di sektor pertanian dan perkebunan.

Artikel Terkait