Berita Terbaru
CPOPC Tampilkan Peranan Petani Sawit Perempuan Dalam Pembangunan Pedesaan dan Keberlanjutan
JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Data dari Badan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) menyebutkan bahwa sektor pertanian yang dijalankan oleh para petani menopang kehidupan 2,5 milyar orang di seluruh dunia. Perempuan menjadi kelompok yang mengisi 40 persen tenaga kerja khusus di sektor pertanian di negara berkembang dimana 20 persen berada di wilayah Amerika Latin dan 60 persen di beberapa bagian di Afrika dan Asia. Tetapi perempuan dengan kepemilikan tanah kurang dari 20 persen dengan jam kerja 12-13 jam lebih lama setiap minggu dari laki-laki.
Menyambut Hari Perempuan Pedesaan Sedunia pada 15 Oktober, CPOPC merilis #elaeiswomen, kegiatan kampanye dijital yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran petani perempuan kelapa sawit dalam pembangunan di pedesaan dan capaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Kegiatan ini juga berupaya menunjukkan bentuk-bentuk praktik pemberdayaan perempuan di sektor pertanian, dalam hal ini industri kelapa sawit, menyediakan banyak ruang dan peluang bagi perempuan berkontribusi dalam pembangunan di wilayah pedesaan.
Sekretaris Jenderal CPOPC Dr. Rizal Affandi Lukman menyatakan, “Gerakan dijital ini merupakan upaya CPOPC dalam menjalankan amanat salah satu tugas CPOPC sesuai piagam pendirian yaitu meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit. Petani adalah salah satu mata rantai pemasok utama industri kelapa sawit dimanapun dan siapapun negara pengekspor sawit. Oleh karena itu, CPOPC menyampaikan pandangan mereka melalui platform media sosial, sebagai media mainstream dunia, kepada para pengambil kebijakan perdagangan dan kelompok konsumen agar lebih berimbang melihat sawit dari berbagai sisi keberlanjutan yang diantaranya sudut pandang petani,”.
Kampanye dijital berupa produksi video untuk konten media sosial mengenai kiprah sejumlah petani perempuan kelapa sawit yaitu Nurhayati (Indonesia), Indai Patrck (Malaysia), Fanny Germania Ortiz (Kolombia), Ruth Sackey (Ghana), Elizabeth Rodriguez Gollardo (Honduras), dan Mamel Tamia Milang (Papua New Guinea). Masing-masing narasumber tampil dalam video berdurasi sekitar dua dan lima menit. Ke-12 video yang telah selesai produksinya dan diunduh di saluran YouTube CPOPC. Masing-masing perwakilan petani perempuan mengisahkan bagaimana komoditas pertanian seperti kelapa sawit menjadi jalan bagi mereka dalam berkontribusi melalui penguatan kapasitas, pemberdayaan di tingkat keluarga dan komunitas, bahkan mendapatkan hak milik atas lahan perkebunan.
Selain konten video, produk lainnya dari gerakan dijital ini adalah infografis yang memuat data-data penting terkait petani perempuan dan industri kelapa sawit di masing-masing negara angota dan pengamat CPOPC, sebagai contoh: Indonesia: Jumlah petani perempuan diestimasi 50 persen dari 2,6 juta petani kelapa sawit saat ini. Malaysia: Di Sarawak, ada aturan hukum yang khusus mengatur kepemilikan atas tanah adat dari kelompok pemukim asli (indigenous people) atau Native Customary Right (NCR). Peraturan ini menempatkan secara setara laki-laki dan perempuan untuk kepemilikan tanah.
Kolombia: Sekitar enam ribu produsen kelapa sawit terlibat di sektor ini dengan 80 persen diantara masuk kategori dikelola oleh petani Ghana: Perempuan banyak terlibat di pengelolaan hasil kelapa sawit dimana 60 persen dihasilkan dari perkebunan petani dan 76 persen kebutuhan CPO dalam negeri dipasok oleh mereka.
Honduras: Perempuan dinyatakan berhak memiliki kepemilikan atas lahan atau tanah yang diberikan oleh satu badan yang disebut National Agrarian Institute. Sebanyak 79 ribu hak lahan yang diberikan selama sepuluh tahun terakhir, 37 persen penerima adalah perempuan dengan 14 persen diantaranya di wilayah pedesaan.
Papua New Guinea: Sejak tahun 1997, New Britain Palm Oil Limited (NBPOL), anak perusahaan Sime Darby Plantation Sdn Bhd, menginisiasi program mama Lus Frut. Program tersbeut memberikan kemandirian finansial bagi perempuan di Kokopo.
Sekretariat CPOPC bekerja sama dengan beberapa perwakilan pemangku kepentingan sektor sawit di negara anggota tetap (Indonesia dan Malaysia) dan negara pengamat/observer countries (Ghana, Honduras, Kolombia, dan Papua New Guinea) diantaranya Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI), FEDEPALMA – Colombia, Solidaridad – West Africa, dan New Britain Palm Oil Limited (NBPOL) – PNG baik dalam produksi maupun diseminasi konten tersebut.






