• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

CPOPC: Sawit Bukan Penyebab Deforestasi Global, Melainkan Komoditas Paling Efisien

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Sawit (CPOPC/Council of Palm oil Producing Countries) menegaskan peranan strategis sawit sebagai solusi bukan menjadi masalah dalam krisis global terkait deforestasi, energi, dan ketahanan pangan.

Pernyataan ini disampaikan Sekretaris Jenderal CPOPC periode 2022–2025, Dr. Rizal Affandi Lukman, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (28 Mei 2025). Menurutnya minyak sawit adalah komoditas paling efisien dan berkelanjutan di dunia.

“Minyak sawit hanya menggunakan 8,2% dari total lahan tanaman minyak dunia, tetapi menghasilkan 41,8% dari minyak nabati global. Ini menjadikannya sumber yang paling efisien dan layak secara lingkungan,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa Indonesia dan Malaysia telah mencatat penurunan kehilangan hutan primer selama lima tahun berturut-turut, menunjukkan bahwa negara produsen berkomitmen serius terhadap keberlanjutan.

Saat ini, minyak sawit menyumbang lebih dari 50% ekspor minyak dan lemak global, dikonsumsi di lebih dari 160 negara. Selain itu, produksi minyak sawit dunia tahun 2023 mencapai lebih dari 81 juta ton, dengan Indonesia sebagai produsen, eksportir, dan konsumen terbesar

Dalam jumpa pers ini diperkenalkan Sekjen CPOPC periode 2025–2028, Izzana Salleh dan Dr. Musdhalifah Machmud sebagai Wakil Sekretaris Jenderal. Izzana Salleh mengatakan saat negara produsen terus menjadi sasaran ketidakadilan regulasi, suara kita harus semakin kuat. Kami akan membangun kepercayaan melalui sains, data, dan tanggung jawab bersama.

Dr. Musdhalifah Machmud menambahkan bahwa keberlanjutan bukan hanya tuntutan negara konsumen, tapi juga peluang untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil di negara produsen.

CPOPC menyerukan kepada komunitas global untuk menghentikan pendekatan sepihak terhadap minyak sawit dan mulai membangun narasi baru berbasis fakta, efisiensi, dan keadilan perdagangan.

“Kami tidak bisa dibiarkan bekerja sendiri. Masa depan komoditas ini ada pada kolaborasi lintas benua, harmonisasi standar, dan keberpihakan terhadap petani kecil,” pungkas Dr. Rizal.

Artikel Terkait