JAMBI, SAWIT INDONESIA — Serangan hama dan penyakit yang terlambat diketahui dapat menghambat pertumbuhan tanaman hingga mengancam produktivitas kebun sawit. Maka, pekebun perlu mengenali gejala sejak dini agar pengendalian dapat dilakukan sebelum gangguan berkembang lebih luas.
Lead Trainer IPB Training, Prof. Dr. Ir. Hariyadi, M.S., menekankan pentingnya pengamatan rutin sebagai langkah awal menjaga kesehatan tanaman dan menekan risiko kerugian.
“Deteksi dini menjadi langkah penting dalam pengendalian hama dan penyakit kelapa sawit. Pekebun perlu mengenali gejala sejak awal, melakukan pengamatan secara rutin, dan menentukan tindakan berdasarkan kondisi tanaman agar gangguan tidak berkembang lebih luas,” ujar Prof. Hariyadi dalam keterangan resminya.
Pentingnya kemampuan tersebut menjadi bagian dari Pelatihan Budi Daya Kelapa Sawit bagi 86 pekebun Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, pada 7–12 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training untuk memperkuat kompetensi pekebun.
Pengamatan Rutin, Pengendalian Lebih Tepat
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari pengenalan hama dan penyakit pada berbagai fase pertumbuhan, mulai dari pembibitan, tanaman belum menghasilkan (TBM), hingga tanaman menghasilkan (TM). Materi juga mencakup sensus organisme pengganggu tanaman (OPT) untuk mengenali keberadaan hama dan mengukur tingkat serangan.
Salah satu penyakit yang dibahas ialah Ganoderma, yang menjadi tantangan dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Pengenalan gejala dan pemantauan tanaman membantu pekebun meningkatkan kewaspadaan serta menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan.
Peserta juga mempelajari pengendalian hama terpadu melalui pemantauan rutin, pemanfaatan agens hayati, pengenalan musuh alami, dan pengelolaan tanaman bermanfaat. Pendekatan ini menekankan bahwa pengendalian tidak cukup hanya mengandalkan pestisida, tetapi harus mempertimbangkan jenis gangguan dan tingkat serangannya.
Materi penggunaan pestisida turut diberikan, meliputi formulasi, metode aplikasi, keselamatan kerja, dan kalibrasi alat semprot. Ketepatan penggunaan pestisida penting untuk mendukung efektivitas pengendalian sekaligus melindungi pekerja dan lingkungan kebun.
Pengendalian OPT juga perlu terintegrasi dengan pemupukan, pengelolaan gulma, dan pemeliharaan tanaman. Dengan pengelolaan yang terencana, pekebun dapat memantau kondisi kebun secara lebih baik dan menentukan prioritas penanganan.
Menjaga Produktivitas Kebun
Pelatihan ini diharapkan membekali pekebun dengan kemampuan mengenali gangguan lebih awal dan memilih metode pengendalian yang tepat. Pembukaan kegiatan turut dihadiri Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Henrizal, S.Pt., M.M., serta perwakilan pemerintah daerah yang menangani urusan perkebunan.
Deteksi dini menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas karena penanganan tidak seharusnya menunggu tanaman mengalami kerusakan serius. Melalui pengamatan yang konsisten dan pengendalian sesuai kondisi lapangan, pekebun diharapkan mampu mengelola risiko serangan hama dan penyakit secara lebih terarah.
Upaya tersebut pada akhirnya bukan hanya menjaga kesehatan tanaman, tetapi juga membantu melindungi keberlanjutan usaha perkebunan kelapa sawit.














