Khusnul Humayatul Jannah S dan tiga temannya mengembangkan penelitian dengan topik “Pemanfaatan tokoferol - tokotrienol minyak sawit dan selulosa Tandan Kosong Kelapa Sawit sebagai pengobatan Dermatitis Atopik dalam Bentuk Dissolvable Microarray Patch Berbasis Micelles”.
"Kulit yang sehat lebih dari sekedar penampilan, melainkan cerminan dari kesehatan” kutipan dari praktisi kesehatan disampaikan Khusnul mengawali paparan pada sesi final Lomba Riset Sawit Mahasiswa 2024, yang diadakan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, Kamis (4 Oktober 2024).
Khusnul Humayatul Jannah, Mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin ini menjelaskan riset yang dikembangkan bersama temannya karena kasus Dermatitis Atopik terus meningkat di dunia. Ia bersama Christopher Kosasi Kodan Jihan Nabilah Ismadari Fakultas Farmasi, serta Felicia Virginia Thios dari Fakultas Kedokteran. Tim ini dibimbing oleh dosen Prof. Andi Dian Permana, Ph.D.
Dermatitis Atopik adalah kondisi peradangan pada kulit disertai rasa gatal dan kemerahan yang disebabkan oleh faktor genetik serta reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh. Apa yang terjadi jika seseorang mengalami dermatitis atopik?
Dari informasi yang dihimpun tim Redaksi Majalah Sawit Indonesia, dermatitis atopik atau yang biasa disebut eksim dapat muncul di bagian tubuh mana saja. Tetapi sering kali muncul di area lipatan kulit, seperti dahi, sekitar mata dan telinga, bagian dalam siku, bagian belakang lutut, dan sekitar selangkangan.
Data dari GADA (Global Atopic Dermatitis Atlas) pada 2022, lebih dari 223 juta kasus di seluruh dunia. Yang berarti 1 dari 36 orang terpapar Dermatitis Atopik.
“Lalu, bagaimana di Indonesia? Lebih dari 64 juta kasus Dermatitis Atopik dan diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya,” ungkap Khusnul.
Menurut Khusnul, angka kasus yang besar tersebutakan menjadi penghalang salah satu tujuan dari Sustainable Development Goal’s (SDG's) yaitu poin ketiga 'Kehidupan Sehat dan Sejahtera' yang selama ini dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Jika seseorang mengalami Dermatitis Atopik, yang kulitnya akan mengalami berbagai perubahan antara lain; Gatal yang parah, Ruam yang berwarna merah dan kering, Kulit menebal dan mengeras, Kulit berkerak dan merembes, Kulit mentah dan sensitif akibat digaruk, Kulit mengelap di sekitar mata, dan benjolan kecil dan menonjol pada kulit berwarna coklat atau hitam.
Bahkan, Dermatitis Atopik dapat menyebabkan komplikasi, seperti: Neurodermatitis, yaitu kondisi kulit bersisik akibat gatal kronis, Infeksi kulit, seperti infeksi bakteri, virus, atau jamur; Masalah pada mata, seperti gatal di sekitar kelopak mata, blefaritis, dan konjungtivitis; Gangguan tidur; dan masalah perilaku, seperti gangguan kekurangan perhatian serta hiperaktivitas.
Lebih lanjut, Khusnul menjelaskan pengobatan Dermatitis Atopik ini terbatas pada penggunaan kostikosteroid yang tersedia dalam sediaan konvensional yaitu oral dan topikal.
“Yang sayangnya dalam penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan komplikasi seperti kelemahan otot (21%), penipisan kulit (64%), resistensi insulin (86%) dan serangan jantung (95%),” jelasnya.
Untuk itu, diperlukan alternatif pengobatan. Saat ini pengobatan menggunakan senyawa bahan alam banyak dilirik karena minimnya efek samping dan lebih baik dari bahan sintetis.
“Salah satu alternatif pengobatan yang terdiri dari vitamin E (Tokoferol - Tokotrienol) yang mampu menurunkan sekresi IL-4 dan menekan inflamasi,” ungkap Khusnul.
Gabungkan dua unsur dan diformulasi
Menariknya, ia bersama timnya dari berbagai referensi yang didapat menemukan kandungan (Tokoferol – Tokotrienol) yang cukup tinggi yaitu kadar Vit E (600 - 1.000 mg/kg) dan terbanyak dari minyak nabati lainnya.
“Namun, sayangnya Tokoferol - Tokotrienol memiliki kelarutan yang rendah. Untuk itu diperlukan adanya sistem yang dapat meningkatkan kelarutannya. Kami mengenalkan sistem micelles dapat meningkatkan kelarutan Tokoferol - Tokotrienol secara efektif,” Khusnul, di hadapan para dewan juri.
Tantangan lain pengobatan Dermatitis Atopik yaitu rute pemberian obat, (rute oral) pemberian obat yang dapat menyebabkan ketersediaan obat dalam tubuh rendah. Dan rute transdermal tidak mampu melewati ketebatasan stratum corneum.
“Oleh karena itu, kami mengenalkan Dissolvable Microarray Patch (DMP), ini mampu melewati stratum corneum kulit dan mampu meningkatkan penetrasi obat di dalam kulit,” terang Khusnul melanjutkan paparannya.
“Kami menggabungkan dua unsur yang ada pada kelapa sawit yaitu biopolimer Derivat Selulosa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) serta tokoferol dan tocotrienol minyak sawit yang dikorporasikan dalam bentuk Micelles dan formulasikan ke dalam polyvinyl pyrrolidon dalam bentuk Dissolvable Microarray Patch Micelles,” sambungnya.
Pada riset sebelumnya terdapat sediaan vitamin E yang diformulasikan dalam bentuk nanoemulsi, namun sayanganya kesediaan tersebut memiliki keterbatasan yang mengakibatkan terjadi degradasi obat dan stabilitas yang rendah, sehingga sediaan tersebut dinilai tidak efektif.
Oleh karena itu, terang Khusnul, pihaknya menginovasikan sediaan dalam bentuk Dissolvable Microarray Patch - Micelles (DMP-MC).
Singkatnya, dalam pelaksanaan penelitian Khusnul bersama tim melakukan melalui beberapa tahapan. Diawal dengan proses ekstraksi dan saponifikasi minyak sawit dan pretreatment TKKS, Formulasi sistem Micelles + TKF - TTE, formulasi sediaan DMP-MC, Karakterisasi DMP-MC, Uji in Vivo dan Histopatologi, dan penyusunan laporan dan manuskrip jurnal internasional.
Penelitian (riset) ini juga sudah mengantongi kode etik penelitian dengan nomor protokol: UH24010132, pengujian dengan hewan coba telah disetujui oleh Komisi Kode Etik yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, pada 16 Maret 2024.
“Pada penelitian ini, kami mendapat kesimpulan. Metode ekstraksi dan saponifikasi dengan berat sampai 250g menghasilkan ekstrak terbanyak. Sintesis CMC metode alkaline dan bleaching menghasilkan yield sebesar 67,8%. Berdasarkan serangkaian evaluasi, Micelles dengan kode MC4 merupakan formula Micelles terbaik. Formula DMP-MC dengan karakteristik terbaik didapatkan pada formula dengan kode DMP-MC3. Hasil uji in Vivo kelompok dengan perlakuan DMP-MC memiliki penyembuhan Dermatitis Atopik lebih cepat dibandingkan sediaan oral dan topical,” ungkap Khusnul. “Pada riset yang kami lakukan tidak ada kendala yang berarti. Luaran penelitian yang telah dicapai. Metode ekstraksi terbaik Tokofetol - Tokotrienol (TKF-TTE) dari minyak kelapa sawit dan CMC (Karbonsimentil Selulosa) dari TKKS. Memperoleh formulasi terbaik sistem Micelles dan inkorporasi dalam sediaan DMP-MC,” pungkasnya mengakhiri paparannya.














