Jakarta, SAWIT INDONESIA - PT Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN Group membidik kebutuhan modal hingga Rp140 triliun untuk mendanai target ekspansi di sektor pangan dan energi dalam 5 tahun ke depan. Plt. Direktur Utama PTPN III Iswahyudi menyampaikan bahwa kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) tersebut bakal dialokasikan untuk program perluasan lahan atau ekstensifikasi serta pembangunan pabrik hilirisasi baru.
“Hitung-hitungan sementara kami untuk bisa merealisasikan ini di 5 tahun ke depan, kami butuh capex kurang lebih sebesar Rp140 triliun,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, PTPN Group tengah mengajukan perluasan status Proyek Strategis Nasional (PSN) kepada pemerintah. Status ini diharapkan dapat mempermudah koordinasi regulasi, tata kelola, dan skema pembiayaan jangka panjang, termasuk potensi pengajuan Penyertaan Modal Negara (PMN).
Berdasarkan rencana kerja, investasi akan digunakan untuk menambah 270.000 hektare lahan sawit dan 500.000 hektare lahan tebu hingga 2030. PTPN juga merambah komoditas baru dengan target penanaman 104.000 hektare singkong, 200.000 hektare kedelai, 24.000 hektare bawang putih, serta 4.200 hektare jagung.
Di sektor hilir, dana tersebut bakal dialokasikan untuk membangun tiga pabrik gula baru serta infrastruktur energi hijau. PTPN menjadwalkan pembangunan 10 pabrik bioetanol baru yang bersumber dari pengolahan tebu, singkong, dan jagung, di samping pengembangan fasilitas biodiesel dan compressed biogas (CBG).
Adapun ekspansi tersebut berjalan di tengah tren positif kinerja perseroan. Pada 2025, PTPN Group membukukan kenaikan penjualan 9% menjadi Rp59,3 triliun dengan perolehan laba bersih Rp6,4 triliun atau melonjak 81% secara tahunan. Lompatan kinerja didorong oleh kenaikan harga komoditas utama, khususnya minyak sawit mentah (CPO) serta peningkatan produktivitas di berbagai lini usaha.
Perseroan mencatat harga jual riil CPO sepanjang 2025 mencapai Rp14.222 per kilogram, atau 21% di atas target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang dipatok Rp11.749 per kilogram. Selain itu, harga jual palm kernel oil (PKO) melonjak ke posisi Rp25.071 per kilogram, sekitar 98% di atas target awal.
Komoditas kelapa sawit pun masih menjadi motor utama bisnis perusahaan dengan kontribusi 75% terhadap total pendapatan grup. Selanjutnya, komoditas gula menyumbang 13%, karet 7,1%, teh 1,4%, dan komoditas lainnya sebesar 3,4%.
Dari sisi keuangan lainnya, EBITDA PTPN Group terkumpul sebesar Rp15,37 triliun atau tumbuh 24% year on year (YoY). Total aset naik 5% menjadi Rp158,25 triliun, ekuitas menguat ke Rp80,83 triliun, dan liabilitas tercatat sebesar Rp77,42 triliun.
Sumber: market.bisnis.com














