PALEMBANG – Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) menjadi salah satu strategi utama untuk meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat. Melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit 2026, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian dan IPB Training membekali 85 pekebun asal Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, dengan keterampilan budidaya sawit sesuai kaidah GAP.
Pelatihan yang berlangsung pada 29 Juni–4 Juli 2026 di Palembang tersebut diikuti peserta Angkatan VII, VIII, dan IX. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang didanai BPDP, didukung Ditjenbun Kementerian Pertanian, serta diselenggarakan IPB Training bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Empat Lawang dan Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan.
Fokus utama pelatihan adalah mendorong pekebun menerapkan GAP secara menyeluruh, mulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat, pembibitan, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM), pemupukan berimbang, pengendalian gulma, hama dan penyakit, hingga teknik panen yang benar. Melalui penerapan praktik budidaya yang baik tersebut, produktivitas kebun diharapkan meningkat dengan biaya produksi yang lebih efisien serta tetap memperhatikan aspek keberlanjutan.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Empat Lawang, Hendra Lezi, mengatakan perkembangan luas perkebunan sawit di daerahnya berlangsung sangat pesat. Saat mulai menjabat pada 2022, luas kebun sawit sekitar 1.000 hektare, sedangkan kini telah berkembang menjadi sekitar 7.000 hektare.
Menurutnya, peningkatan luas areal harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas melalui penerapan teknik budidaya yang benar.
"Perkembangannya cukup pesat, tetapi produktivitas masih harus terus ditingkatkan agar mampu bersaing dengan daerah lain. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu langkah penting yang harus dilakukan," ujarnya.
Hendra mengakui masih terdapat berbagai tantangan yang dihadapi pekebun, di antaranya keterbatasan akses infrastruktur menuju kebun, kepemilikan lahan yang relatif sempit, hingga masih digunakannya benih yang belum bersertifikat.
Sebab itu, ia menilai pelatihan GAP yang difasilitasi BPDP, Ditjenbun, dan IPB Training menjadi langkah strategis untuk memperbaiki praktik budidaya di tingkat pekebun sehingga berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Selama enam hari, peserta tidak hanya menerima materi di kelas, tetapi juga mengikuti berbagai praktik lapangan. Mereka mempraktikkan pengisian media tanam ke polybag, pengukuran tingkat keasaman tanah menggunakan pH meter dan kertas lakmus, simulasi pengajiran untuk menentukan titik tanam, hingga kalibrasi knapsack sprayer agar aplikasi pupuk maupun pestisida dilakukan secara tepat dosis, tepat sasaran, dan lebih efisien.
Perwakilan narasumber IPB Training, Prof. Dr. Hariyadi, M.S., menegaskan bahwa produktivitas sawit merupakan hasil dari penerapan GAP secara konsisten sejak awal penanaman.
"Produktivitas kebun tidak dapat dicapai hanya melalui pemupukan. Semuanya dimulai dari pemilihan bibit yang benar, pengelolaan lahan yang sesuai, hingga pemeliharaan tanaman secara konsisten," jelasnya.
Antusiasme peserta terlihat selama pelatihan berlangsung. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan, seperti penggunaan benih tidak bersertifikat, keberhasilan peremajaan (replanting), pengendalian gulma, serangan hama dan penyakit, hingga gangguan babi hutan, tikus, dan monyet yang kerap menurunkan produktivitas kebun.
Untuk memperkuat pemahaman terhadap penerapan GAP, peserta juga mengikuti kunjungan lapangan ke PT Duta Reka Mandiri. Di lokasi tersebut mereka melihat secara langsung implementasi standar budidaya kelapa sawit, mulai dari pembibitan, pemeliharaan tanaman, hingga proses panen sesuai praktik terbaik di industri.
Melalui sinergi BPDP sebagai penyedia pendanaan, Ditjenbun Kementerian Pertanian sebagai pengampu program, IPB Training sebagai penyelenggara pelatihan, serta dukungan Pemerintah Kabupaten Empat Lawang dan Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, penerapan GAP di tingkat pekebun diharapkan semakin meluas.
Dengan semakin banyak pekebun yang memahami dan menerapkan Good Agricultural Practices secara konsisten, produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Empat Lawang diharapkan terus meningkat, menghasilkan panen yang lebih berkualitas, meningkatkan pendapatan pekebun, sekaligus memperkuat daya saing sawit Indonesia yang berkelanjutan.














