• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Bukan Wilmar Ataupun First Resources, Inilah Perusahaan Biodiesel Pertama di Indonesia

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Perjalanan industri biodiesel di Indonesia telah dirintis semenjak empat dekade lalu. Merujuk Buku Biodiesel, Jejak Perjalanan Panjang dijelaskan bahwa riset biodiesel berkembang sejak tahun 1990-an. Adapun sejumlah lembaga riset yang telah memulai pengembangan antara lain Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS), Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT), Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Perjalanan industri biodiesel yang memasuki tahapan komersialisasi mulai dirintis pada era 2000-an. Adalah PT Energi Alternatif Indonesia (PT EAI) menjadi perusahaan pertama yang menghasilkan formula biodiesel. Perusahaan ini didirikan oleh Bambang Tri Budiman pada 2001. Ia mengajak Djoko Sulistyono, Head of fuel Toyota yang berkedudukan di Jepang, untuk mendirikan fokus dalam pengembangan riset formula biodiesel. Perusahaan ini dirintis di Wisma Suar, Tanjung Priok, Jakarta

Dalam kurun waktu setahun, tepatnya Januari 2002 PT Energi Alternatif Indonesia berhasil memproduksi biodiesel sesuai yang diharapkan. Tahapan berikutnya dilakukan pengujian terhadap kualitas biodiesel di LEMIGAS. Selanjutnya PT EAI juga melakukan Road Test menggunakan mobil Panther 1977 milik Bambang. Di tahun 2002 dibangunlah pabrik biodiesel skala laboratorium berkapasitas 25 liter/batch, dengan dukungan teknologi dari Pusat Engineering Center BPPT yang dipimpin Soni Solistia Wirawan Bersama tim teknisnya Agus Kismanto dan Maharani. Produk biodiesel dari PT EAI ini dijual dengan merk dagang ‘NaturFuel’.

Dikutip dari Buku Biodiesel, Jejak Perjalanan Panjang, PT EAI mulai Juli 2003, bekerja sama dengan Kemenristek, pabrik biodiesel tersebut di-scale up hingga berkapasitas produksi 1.500 liter/hari. Sampel biodiesel yang diproduksi dikirim ke Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, IATO, GAIKINDO, Pantja Motor hingga Elnusa. PT EAI juga menyediakan biodiesel untuk Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi pada tahun 2005 sebanyak 25.360 liter.

Langkah berikutnya PT EAI mengajukan izin ke Ditjen Migas untuk mendapatkan lisensi dagang sebagai whole sale pada Oktober 2005. Izin sebagai whole sale temporary untuk Bahan Bakar Lainnya diterbitkan Dirjen Migas pada tahun 2006 dengan Nomor 6151/24/DJM.O/2006.

Lahirnya Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006, mulai berdampak positif bagi pengembangan industri biodiesel. Apalagi setelah BSN menerbitkan SNI 04- 7182-2006 yang merupakan standar Biodiesel (B100) pertama di Indonesia pada 2006.

Namun, perjalanan EAI di industri biodiesel tak bertahan lama. Maraknya industri biodiesel skala besar menjadikan PT EAI mulai terpinggirkan. Ketika perusahaan besar memasok biodiesel ke Pertamina Plumpang dengan kapal tanker, PT EAI masih datang dengan mobil tangki kapasitas 8-10 ton. Akhir perjalanan PT EAI pun di depan mata saat pabrik mulai tak berproduksi, Bambang lupa bahwa sustainability menjadi kunci. Meski berakhir, sebuah pabrik telah menjadi saksi pada semangat memberikan yang terbaik dengan kemampuan teknologi dalam negeri.

Pada satu kesempatan, Tatang berujar kepada Bambang, “Kalau tidak punya bahan baku tidak akan menjadi champion,” ujarnya dalam Buku Biodiesel, Jejak Perjalanan Panjang.

Bambang pun menimpali “Modal saya cuma nekat dan semangat ingin membuktikan bahwa biodiesel itu baik untuk negeri ini”.

Artikel Terkait