• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Buka Puasa Bersama Media, Asian Agri–Apical Tegaskan Komitmen Sawit Berkelanjutan

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Di tengah sorotan yang kian tajam terhadap industri kelapa sawit, Asian Agri dan Apical Group memilih membuka ruang dialog dengan media. Dalam suasana buka puasa bersama di Jakarta, Kamis (5 Maret 2026), keduanya menekankan pentingnya merawat narasi yang berimbang, seraya menegaskan kembali komitmen pada tata kelola berkelanjutan dari hulu hingga hilir.

Head of Corporate Communications Apical dan Asian Agri, Prama Yudha Amdan, mengakui enam bulan terakhir menjadi periode yang tidak mudah bagi industri sawit. Berbagai isu, baik domestik maupun global, menekan persepsi publik terhadap komoditas andalan ekspor Indonesia tersebut.

“Enam bulan terakhir ini industri sawit kayaknya apes amat. Kanan-kiri kita sama-sama dihajar oleh berbagai isu,” ujar Yudha dalam sambutannya.

Menurut dia, industri sawit kini bahkan kerap menjadi bahan olok-olok di media sosial, terutama di kalangan generasi muda. Ia menilai situasi tersebut menuntut kolaborasi yang lebih kuat antara pelaku usaha dan media untuk menghadirkan narasi yang berimbang.

Yudha menegaskan sawit memegang peran krusial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Produk turunan sawit, kata dia, hadir mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga sektor energi. Karena itu, ia berharap media dapat terus menyuarakan pemberitaan yang objektif dan proporsional terhadap industri tersebut.

“Bukan tanggung jawab satu perusahaan untuk membangun narasi. Kami sangat bergantung kepada rekan-rekan media agar berita yang hadir tetap berimbang,” katanya.

RGE Group, tempat Asian Agri dan Apical bernaung, merupakan produsen sawit terintegrasi dari hulu hingga hilir. Asian Agri berfokus pada sektor perkebunan, sementara Apical mengolah crude palm oil (CPO) menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah.

Director of Corporate Affairs & Sustainability Asian Agri, Johan Kurniawan, menekankan nilai kebermanfaatan dan integritas sebagai fondasi industri sawit berkelanjutan. Ia mengaitkan momentum Ramadan dengan prinsip tata kelola dan konsistensi dalam bisnis.

“Kelapa sawit adalah komoditas yang unik. Hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Inilah semangat circular economy, tidak ada yang terbuang, semua kembali memberi manfaat,” ujarnya.

Di sisi hulu, Asian Agri menerapkan praktik budidaya bertanggung jawab, penggunaan bibit unggul, serta program peremajaan (replanting) untuk menjaga produktivitas tanpa membuka lahan baru. Perusahaan juga memperkuat kemitraan dengan petani sebagai bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang.

Di hilir, Apical mengembangkan rantai pasok terintegrasi dan inovasi produk, mulai dari oleochemical, functional fats, hingga bahan bakar berkelanjutan seperti Sustainable Aviation Fuel (SAF). Johan menyebut sawit kini berperan dari “dapur sampai avtur”, mencerminkan luasnya pemanfaatan komoditas tersebut.

Selain aspek bisnis, kedua perusahaan juga menjalankan program sosial selama Ramadan. Asian Agri menggelar bazar minyak goreng di wilayah operasionalnya di Sumatera Utara, Riau, dan Jambi. Sementara itu, Apical berpartisipasi dalam bazar Minyakita bersama Kementerian Perindustrian dengan menyalurkan sekitar 600 karton minyak goreng kepada masyarakat.

Melalui kegiatan buka bersama ini, Asian Agri dan Apical menegaskan komitmen untuk memperkuat komunikasi dengan media sekaligus mendorong praktik industri sawit yang berkelanjutan dan berdaya saing di tengah tantangan global.

Artikel Terkait