Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Ir. Harsawardana,M.Eng menilai pengembangan teknologi otonom di sektor perkebunan sawit menjadi kebutuhan mendesak untuk menjawab berbagai tantangan di tingkat hulu, mulai dari keterbatasan tenaga kerja, tingginya biaya produksi, hingga tuntutan peningkatan produktivitas.
Pandangan tersebut disampaikan menyusul keberhasilan pengembangan teknologi otonom pemupukan (Autonomous Intermittent Fertilizer Spreader) karya salah satu dosen INSTIPER Yogyakarta, Rengga Arnalis Renjani bersama tim, yang telah diuji dan diluncurkan di salah satu kebun sawit milik Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group) di Kalimantan Tengah.
Menurut Dr. Harsawardana perkembangan teknologi di sektor hulu perkebunan selama ini masih tertinggal dibandingkan sektor hilir maupun industri pengolahan. Padahal, keberlanjutan industri sawit sangat bergantung pada kekuatan sektor hulu.
“Permasalahan di tingkat upstream atau di kebun memang teknologinya relatif lebih lambat dibandingkan yang ada di pabrik maupun downstream. Padahal hulu ini sangat penting sekali,” ujarnya saat diwawancarai pada Rabu (13 Mei 2026) di ruangannya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, meningkatnya biaya tenaga kerja serta ketergantungan besar terhadap pekerja lapangan membuat industri sawit perlu mulai bertransformasi menuju mekanisasi dan otomasi. Namun demikian, penggunaan teknologi bukan untuk menggantikan manusia sepenuhnya, melainkan membantu pekerja menjadi lebih produktif.
“Pengertian diminimalisir itu harus ditanggapi secara positif, bukan berarti pengurangan orang, tetapi membantu orang untuk bisa bekerja lebih produktif,” katanya.
Dr. Harsawardana menilai teknologi autonomous vehicle maupun autonomous tractor sebenarnya sudah berkembang pesat di sektor nonpertanian. Akan tetapi, penerapannya di perkebunan sawit membutuhkan adaptasi besar karena kondisi lingkungan kebun yang jauh lebih berat dan tidak bersahabat.
“Lingkungan sawit itu harsh environment. Jadi penyesuaian teknologi dari nonpertanian ke sawit membutuhkan adaptasi luar biasa, baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya,” jelasnya.
Selain kondisi topografi dan medan kebun, tantangan lain yang dihadapi adalah kestabilan sinyal satelit sebagai basis navigasi kendaraan otonom. Menurut Dr. Harsawardana, sistem otomasi di kebun sawit masih membutuhkan banyak penyempurnaan agar benar-benar dapat bekerja secara optimal di lapangan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kebutuhan terhadap teknologi otomasi di perkebunan akan terus meningkat, terutama karena semakin berkurangnya minat generasi muda bekerja di sektor perkebunan dan pertanian.
“Tren bahwa orang bekerja di kebun semakin sedikit itu sudah menjadi fakta. Generasi sekarang tidak ingin bekerja dengan beban yang dianggap berat,” ujarnya.
Bahkan ia memprediksi dalam beberapa tahun ke depan teknologi robot humanoid akan mulai masuk ke sektor perkebunan untuk membantu pekerjaan lapangan, mulai dari pengawasan hingga panen. Termasuk kemungkinan masuknya robot humanoid untuk penggantian mandor maupun pemanen suatu saat nanti,” katanya.
Terkait teknologi otonom pemupukan yang dikembangkan dosen INSTIPER, Harsawardana menyebut inovasi tersebut memiliki potensi besar karena dapat meningkatkan efisiensi, akurasi distribusi pupuk, serta mengurangi risiko kesehatan pekerja akibat paparan pupuk dalam jangka panjang.
“Kalau tanpa orang, mesin bisa bekerja terus-menerus dari pagi sampai malam. Dari sisi kesehatan juga lebih baik, kemudian dari sisi akurasi distribusi pupuk tentu sangat membantu,” jelasnya.
Ia juga menyoroti persoalan klasik di lapangan terkait distribusi pupuk manual yang dinilai belum sepenuhnya akurat. Dengan sistem otomatis, proses pemupukan diharapkan lebih sesuai dengan perencanaan perusahaan. “Dengan adanya otomatisasi mesin ini diharapkan semua yang direncanakan sesuai dengan yang dibuat,” tambah pria yang kini menjabat sebagai Rektor INSTIPER Yogyakarta periode kedua.
Meski masih membutuhkan penyempurnaan, INSTIPER disebut terus mendukung pengembangan riset dan inovasi di sektor sawit. Dukungan tersebut dilakukan melalui penguatan pusat inovasi dan pengembangan teknologi agar hasil penelitian tidak berhenti hanya pada publikasi jurnal, tetapi bisa diterapkan langsung di lapangan.
“Kita berharap hasil riset itu bisa sampai kepada commercial proven, benar-benar terbukti di lapangan,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan hilirisasi teknologi tidak dapat dilakukan perguruan tinggi sendirian, melainkan membutuhkan kolaborasi kuat antara kampus, pemerintah, industri, hingga pengguna teknologi di lapangan.
“Kalau hanya perguruan tinggi dengan pendanaan saja tidak akan berjalan. User harus mau mencoba produk dalam negeri dan pemerintah juga harus punya komitmen,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dr. Harsawardana mendorong pemerintah agar tidak hanya fokus pada pengembangan hilirisasi sawit, tetapi juga serius membangun teknologi di sektor hulu, terutama untuk mendukung petani sawit rakyat yang porsinya mencapai sekitar 43 persen dari total perkebunan sawit nasional.“Saya berharap pemerintah jangan hanya konsentrasi di hilir, hulunya juga harus diurusi. Teknologi di tingkat hulu ini sangat penting untuk masa depan sawit Indonesia,” pungkasnya.














