• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

BRIN Tawarkan Nature-based Solutions untuk Gambut Sumatra Selatan

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Ekosistem gambut Sumatra Selatan (Sumsel) merupakan salah satu lanskap rawa gambut tropis terbesar di Indonesia. Memiliki luas sekitar 1,2 juta ha, wilayahnya tersebar terutama di Ogan Komering Ilir, Banyuasin, dan Musi Banyuasin. Namun kerentanan ekosistem gambut semakin terlihat pasca kebakaran masif tahun 2015 dan 2019 yang melanda lebih dari 600 ribu ha. Dampaknya bersifat multidimensi, yaitu degradasi ekosistem, penurunan keanekaragaman hayati, hilangnya sumber penghidupan masyarakat desa gambut, serta meningkatnya emisi karbon.

Hal ini disampaikan Budi H. Narendra, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat wawancara di KST Soekarno, Cibinong, Kamis (20/11).

“Ketika gambut mengering, ia menjadi sangat rentan. Yang hilang bukan hanya tutupan vegetasi, tetapi sistem penyangga kehidupan,” tutur Budi yang terlibat dalam kajian dan implementasi restorasi gambut berbasis alam.

Budi menjelaskan urgensi penerapan Nature-based Solutions (NbS) sesuai definisi International Union for Conservation of Nature. “NbS adalah tindakan untuk melindungi, mengelola secara berkelanjutan, dan memulihkan ekosistem alami maupun terdegradasi untuk menjawab tantangan sosial serta memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati,” jelasnya.

Ia meyakini, pendekatan NbS sangat relevan bagi ekosistem gambut Sumsel karena mengandalkan proses alami tanpa memutus relasi ekologis yang sudah terbentuk selama ribuan tahun. Budi menyebut NbS sebagai “pendekatan ilmiah yang tetap menghormati cara alam bekerja,” sekaligus mengintegrasikan kearifan lokal masyarakat di lanskap gambut.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan restorasi hanya mungkin jika fungsi lindung, konservasi, dan produksi berjalan secara seimbang. Lebih jauh Budi menjelaskan empat strategi utama dalam penerapan NbS pada lanskap gambut Sumsel.

Pertama, Rewetting yaitu mengembalikan air ke gambut. “Melalui pembangunan sekat kanal dan pengaturan tinggi muka air, rewetting bertujuan menjaga gambut tetap basah, menekan risiko kebakaran, dan memulihkan stabilitas hidrologi,” jelas Budi. “Rewetting adalah fondasi. Tanpa air, semua upaya lainnya runtuh,” tambahnya.

Kedua, rehabilitasi vegetasi. Penanaman kembali jenis-jenis asli seperti Shorea balangeran dan Dyera lowii, serta pengembangan paludikultur (sagu, purun, kopi rawa), membantu meningkatkan tutupan lahan dan penyerapan karbon, sekaligus membuka peluang ekonomi.

Ketiga, konservasi keanekaragaman hayati. Restorasi habitat alami mendukung regenerasi fauna rawa seperti ikan lokal dan burung air migran. Konservasi diposisikan bukan hanya sebagai perlindungan spesies, tetapi pemulihan stabilitas ekologis.

Keempat, pemanfaatan berkelanjutan. “NbS menekankan integrasi ekologis dan ekonomi, seperti Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bernilai tambah, pertanian organik, hingga ekowisata. Pemanfaatan ini dilakukan tanpa mengurangi kapasitas ekosistem untuk pulih, sebuah prinsip dasar keberlanjutan,” ujar Budi.

Berdasarkan hasil tim kelompok risetnya bersama mitra, Budi menyimpulkan keberhasilan restorasi sangat bergantung pada partisipasi masyarakat desa gambut. Mereka menjadi pelaksana rewetting, penanam vegetasi, pengelola produk HHBK, hingga penjaga ekosistem.

“Restorasi tidak dapat berjalan jika masyarakat tidak memiliki peran,” ujar Budi. Ia menegaskan, pendekatan partisipatif menjadikan masyarakat bukan objek, melainkan aktor kunci dalam pemulihan gambut.

Restorasi berbasis NbS menurut Budi memberikan berbagai manfaat lintas aspek. Aspek Ekologi, yaitu penurunan emisi karbon, stabilisasi hidrologi, pengurangan risiko kebakaran. Aspek sosial berupa peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan ketahanan lingkungan desa gambut, dan aspek ekonomi melalui diversifikasi pendapatan melalui paludikultur, madu hutan, purun, tanaman obat, perikanan rawa. Selain itu, secara global NbS kontribusi terhadap Perjanjian Paris, SDGs (13, 14, 15), dan target Net Zero Emission 2060.

“Kami meyakini bahwa Sumsel berpotensi menjadi model nasional restorasi gambut tropis melalui NbS bila pendanaan hijau, riset berkelanjutan, dan kolaborasi multipihak terus diperkuat,” pungkasnya.

Dengan langkah yang konsisten, BRIN bersama mitra dapat menjadikan gambut Sumsel sebagai contoh pemulihan ekosistem gambut tropis yang berhasil, sekaligus bukti bahwa pendekatan berbasis alam mampu menjadi solusi masa depan.

Sumber: brin.go.id

Artikel Terkait