JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, menyambut kunjungan penting dari Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Teten Masduki, beserta rombongan ke Gedung Business Networking Center, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Bogor. Kunjungan ini bertujuan untuk menggali potensi pengembangan produk UKM berbasis riset guna meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Dalam kesempatan tersebut, Laksana Tri Handoko menegaskan pentingnya kolaborasi antara BRIN dengan Kementerian Koperasi dan UKM untuk memfasilitasi produksi lokal dengan memanfaatkan infrastruktur dan hasil riset yang ada di KST Soekarno. KST Soekarno adalah KST pertama di Indonesia dengan luas 198 hektar yang diinisiasi oleh Presiden Soekarno dan fokus pada life science.
“Semoga Kementerian Koperasi dan UKM dapat memanfaatkan fasilitas ini dan kami mengundang mitra dan pelaku usaha untuk hadir di sini, termasuk investasi asing bukan untuk menjual formulasinya tetapi melakukan Research and Development (R&D) dan sekaligus berproduksi,” ujarnya.
Lebih lanjut Handoko juga menerangkan KST Soekarno merupakan salah satu kawasan global dimana UKM dan start up dapat mengembangkan produk dan ada fasilitas untuk mengujinya. Semoga pertemuan ini menjadi awal yang baik dan dapat bersinergi satu sama lain.
Teten Masduki menggarisbawahi urgensi adopsi riset dalam pengembangan produk UKM, menjelaskan bahwa ekonomi digital dan perubahan global membutuhkan inovasi yang didukung oleh riset yang kuat. "Kita perlu mengembangkan ekosistem produksi modern untuk mendukung UMKM dan start up menggunakan teknologi terbaru," katanya.
“Saya ditugaskan oleh Pak Presiden untuk melahirkan terobosan di bidang ekonomi. UMKM bertumbuh di banyak negara dengan ekonomi digital dan perubahan itu menghasilkan ekonomi baru. Saat ini produk UMKM daya saingnya kuat dan adanya platform global menjadi sarana untuk masuk ke pasar dunia, sedangkan e-commerce kita masih berupa lapak dan produknya UMKM,” lanjut Teten.
Dirinya juga menjelaskan produk UMKM Indonesia belum berbasis riset, oleh karena itu ekonomi Indonesia tidak ada perubahan. Ekonomi digital kita terhambat menuju ekonomi baru karena e-commerce kita dikuasai asing.
Teten menambahkan kami akan mengembangkan dan perbaikan sarana produksi UMKM karena kita belum dapat membangun teknologi produksi yang modern dan kita akan membangunkan rumah-rumah produksi bersama yang akan mengelola berbagai keunggulan domestik seperti hasil kebun, pertambangan, pertanian dan kelautan. Untuk itu, kami dapat bekerja sama dengan BRIN untuk memfasilitasinya dan dapat dijadikan tempat untuk produksi.
“Kami juga sedang menyiapkan start up baru yang sudah menggunakan teknologi dan kita dorong ke produksi. Melihat kondisi start up di Korea, Jepang, Belanda dan Australia yang sudah berbasis riset untuk melahirkan produk dan ekonomi baru, sedangkan di Indonesia masih fokus pada teknologinya saja belum mengarah ke bisnis,” imbuhnya.
Adanya teknologi digital sangat membantu aktivitas UMKM dan start up termasuk di area hulu untuk mendapatkan produktivitas, kualitas, dan efisiensi. “Kami ingin bekerja sama dengan BRIN sebagai lembaga penelitian untuk mencari hasil-hasil riset yang dapat dikomersialisasikan, karena kami ada ekosistemnya untuk melahirkan ekonomi baru dan saya optimis kita dapat mengelola produk yang berbahan baku lokal secara kompetitif,” tegas Teten.
Selanjutnya kunjungan dilanjutkan dengan diskusi yang mencakup rencana pengembangan start up berbasis riset, sejalan dengan praktek yang telah sukses di negara-negara maju seperti Korea, Jepang, Belanda, dan Australia. Menteri Teten optimis bahwa dengan dukungan BRIN, Indonesia dapat menghasilkan produk berbahan baku lokal yang bersaing secara global.
Sumber: brin.go.id






