• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

BPDP Dukung 59 Pekebun Pasaman Barat dan Dharmasraya untuk Ikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik di Padang

Padang, SAWIT INDONESIA - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan Best Planter Indonesia (BPI) kembali menyelenggarakan program Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik pada tanggal 10 – 13 Agustus 2026 di Hotel Axana, Padang bagi 59 peserta asal Pasaman Barat dan Dharmasraya. Pelatihan ini dilaksanakan sebagai upaya dalam mewujudkan kemandirian pekebun dalam menyediakan pupuk organik/hayati dan pembenah tanah di wilayahnya masing-masing secara mandiri dan berkelanjutan.

Diharapkan melalui pelatihan ini, para pekebun mampu memanfaatkan limbah perkebunan, peternakan, dan limbah organik lain di wilayahnya masing-masing untuk diolah menjadi suatu produk agroinput yang memiliki nilai tambah dan pengaplikasiannya dapat meningkatkan efisiensi penyerapan hara dan ramah lingkungan. Upaya ini sekaligus untuk memperbaiki degradasi lahan melalui pengembalian kembali bahan organik ke lahan perkebunan.

Sinergi BPDP, Ditjenbun, dan BPI dalam Pemberdayaan Pekebun

Pelatihan yang digelar oleh BPDP, Ditjenbun, dan BPI ini dirancang sebagai wadah berbagi wawasan dan pengetahuan dengan para pekebun swadaya kelapa sawit dalam membuat pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah. Program ini terdiri dari teori, praktik, dan kunjungan lapang agar materi mudah dipahami dan dipraktikkan oleh para peserta.

Pemanfaatan Limbah Organik Menjadi Pupuk dan Pembenah Tanah

Salah satu materi utama dalam pelatihan ini adalah pemanfaatan limbah organik yang melimpah menjadi produk agroinput yang memiliki nilai tambah. Limbah organik yang dipraktikkan terdiri dari limbah rumah tangga/pasar dan limbah perkebunan kelapa sawit.

Dimulai dari pengolahan limbah rumah tangga/pasar dan limbah peternakan menjadi beragam Pupuk Organik Padat (POP) dan Pupuk Organik Cair (POC), selain itu juga diperagakan teknik isolasi mikroba secara praktis yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan inti pupuk hayati hingga insektisida. Dalam pelatihan ini juga memberikan edukasi kepada para peserta dalam mengolah ragam limbah organik menjadi kompos dengan menggunakan berbagai dekomposer yang berbasis bakteri, jamur, maupun makrofauna seperti cacing tanah dan larva lalat tentara hitam (BSF).

Dalam sesi kelas edukasi dan praktik meliputi pembuatan dan pengembangan MOL (Mikroorganisme Lokal), BAL (Bakteri Asam Laktat), teknik praktis isolasi mikroba bermanfaat/fungsional dan perbanyakannya, pembuatan dan teknik formulasi POP dan POC, pembuatan dan teknik pembuatan pupuk hayati, teknik isolasi fungi entomopatogen sebagai bahan inti insektisida, pembuatan pupuk cair asam amino, pembuatan biochar, dan karakteristik dekomposer dan bahan yang digunakan dalam pengomposan. Kemudian dalam sesi kunjungan lapang para peserta mengunjungi Kelompok Tani Tigo Balai di Muaro Paneh, Solok untuk menyaksikan dari dekat praktik pembuatan POP dengan menggunakan bahan-bahan seperti kompos kotoran hewan sapi dan kambing, dolomit, abu janjang, dan dekomposer.

Diharapkan melalui pelatihan ini, para pekebun memiliki kemampuan dalam mengolah limbah organik yang ada di wilayahnya masing-masing secara mandiri menjadi produk agroinput yang memiliki nilai tambah. Selain itu, diharapkan setelah mengikuti pelatihan para pekebun mampu menerapkan teori dan praktik yang telah diberikan dan tercipta peluang usaha baru dalam penyediaan agroinput ramah lingkungan melalui kelembagaan.

Penggunaan agroinput yang ramah lingkungan ini dapat meningkatkan efesiensi serapan hara, menjaga keanekaragaman ekosistem tanah, dan mengurangi limbah secara signifikan. Dengan lahan yang sehat diharapkan produktifitas kelapa sawit yang dikelola oleh para pekebun swadaya dapat meningkat dan berkelanjutan.

Artikel Terkait