SAWIT INDONESIA - Dalam rangka meningkatkan ketrampilan praktis para pekebun kelapa sawit dalam membuat pupuk organik/hayati dan pembenah tanah secara mandiri, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Provinsi Riau, Dinas Perkebunan Kabupaten Rokan Hilir, dan Best Planter Indonesia (BPI) menyelenggarakan program Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik pada tanggal 21 Juli – 24 Juli 2026 di Hotel Furaya, Pekanbaru bagi 128 peserta asal Kabupaten Rokan Hilir. Pelatihan ini dilaksanakan sebagai upaya dalam mewujudkan kemandirian pekebun dalam menyediakan pupuk organik/hayati dan pembenah tanah di wilayahnya masing-masing secara berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, BPDP, Ditjenbun, dan BPI berkomitmen untuk menyelenggarakan pelatihan untuk pekebun agar mampu memanfaatkan limbah perkebunan, peternakan, dan limbah organik lain di wilayahnya masing-masing untuk diolah menjadi suatu produk agroinput yang memiliki nilai tambah dan pengaplikasiannya dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis dan ramah lingkungan. Upaya ini sekaligus untuk memperbaiki degradasi lahan melalui pengembalian kembali bahan organik ke lahan perkebunan.
Sinergi BPDP, Ditjenbun, dan BPI dalam Pemberdayaan Petani
Pelatihan yang digelar oleh BPDP, Ditjenbun, dan BPI ini dirancang sebagai wadah untuk berbagi wawasan dan pengetahuan dengan para pekebun swadaya kelapa sawit. Program ini terdiri dari teori dan praktik langsung dengan memanfaatkan limbah perkebunan kelapa sawit, peternakan, dan limbah organik lain.
Pihak BPI menyediakan tenaga ahli dan instruktur berpengalaman yang membimbing pekebun swadaya melalui sesi kelas, sesi kunjungan, dan praktik lapangan. Pihak Ditjenbun memberikan pendampingan saat pelatihan berlangsung. Sementara itu, BPDP mendukung penuh pembiayaan pelatihan.
Pemanfaatan Limbah Organik Menjadi Pupuk dan Pembenah Tanah
Salah satu materi utama dalam pelatihan ini adalah pemanfaatan limbah organik yang melimpah menjadi produk agroinput yang memiliki nilai tambah. Limbah organik yang dipraktikkan terdiri dari limbah rumah tangga/pasar dan limbah perkebunan kelapa sawit.
Dimulai dari pengolahan limbah rumah tangga/pasar dan limbah peternakan menjadi Pupuk Organik Padat (POP) dan Pupuk Organik Cair (POC) atau bahan untuk isolasi mikroba yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan inti pupuk hayati. Dalam pelatihan ini juga memberikan edukasi kepada para petani dalam mengolah limbah TKKS menjadi kompos. Selain itu, para petani juga mendapatkan edukasi tentang bagaimana mengolah biochar dari limbah TKKS kering. Kompos dan biochar menjadi agroinput penting yang dapat dikombinasikan dan bisa diaplikasikan ke lahan kelapa sawit.
Berikut kegiatan dan praktik pembuatan pupuk organik/hayati dan pembenah tanah dalam pelatihan:
- Pembuatan MOL (pengembangan agroibput basis Mikroorganisme Lokal).
- Pembuatan BAL (pemanfaatan Bakteri Asam Laktat dalam pertanian).
- Isolasi mikroba bermanfaat dengan media karbohidrat dan tanah rizosfer bambu dan perbanyakannya.
- Pembuatan Pupuk Organik Cair melalui pengolahan limbah rumah tangga/pasar.
- Pembuatan Pupuk Organik Padat NPK Organik dan Pupuk Hayati melalui pengayaan kompos/kascing dengan bahan mineral, bahan organik, dan inokulan mikroba bermanfaat.
- Pembuatan kompos dengan memanfaatkan limbah rumah tangga/pasar.
- Pembuatan biochar dengan bahan limbah TKKS kering dan pupuk hayati berbasis biochar, kompos, dan inokulan mikroba bermanfaat.
Diharapkan melalui pelatihan ini, para pekebun memiliki kemampuan dalam mengolah limbah organik yang ada di wilayahnya secara mandiri menjadi produk agroinput yang memiliki nilai tambah. Target dari pengaplikasian agroinput berbasis bio/hayati dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis. Selain itu, diharapkan setelah mengikuti pelatihan para petani mampu menerapkan teori dan praktik yang telah diserap dan tercipta peluang usaha baru dalam penyediaan agroinput ramah lingkungan melalui kelembagaan.
Penggunaan agroinput yang ramah lingkungan dapat menjaga keanekaragaman ekosistem tanah dan mengurangi limbah secara signifikan. Dengan lahan yang sehat diharapkan produktifitas kelapa sawit dapat meningkat dan berkelanjutan.






