• Senin, 12 Oktober 2026
Berita Terbaru

BPDP-Ditjenbun dan IPB Training Bekali Pekebun Sawit Jambi Tekan Kehilangan Hasil Panen

JAMBI, SAWIT INDONESIA — Meningkatkan produksi kelapa sawit tidak cukup hanya dengan mendorong tanaman menghasilkan lebih banyak buah. Pekebun juga perlu memastikan setiap tandan buah segar (TBS) dipanen pada tingkat kematangan yang tepat, ditangani dengan baik, dan tidak hilang selama proses pengumpulan hingga pengangkutan.

Prof. Dr. Ir. Hariyadi, M.S., Lead Trainer IPB Training, menekankan pentingnya keterampilan panen dan pascapanen untuk mengoptimalkan hasil perkebunan kelapa sawit rakyat. Penanganan yang kurang tepat dapat menyebabkan hasil yang sudah tersedia di kebun tidak termanfaatkan secara maksimal.

“Peningkatan produktivitas tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak buah yang dihasilkan tanaman, tetapi juga bagaimana pekebun memanen dan menangani hasilnya. Karena itu, setiap tahapan panen dan pascapanen harus dilakukan dengan benar agar kehilangan hasil dapat ditekan dan pendapatan pekebun lebih optimal,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, pada Minggu (11 Oktober 2026).

Pentingnya keterampilan tersebut menjadi fokus Pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit bagi 118 pekebun dari Kabupaten Tebo, Sarolangun, dan Batanghari, Provinsi Jambi. Kegiatan yang berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026, melalui kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan IPB Training.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari kriteria matang panen, teknik pemanenan, serta penanganan TBS dan brondolan. Ketepatan menentukan buah matang panen menjadi langkah awal untuk menjaga kualitas hasil, sedangkan pengumpulan brondolan secara cermat membantu mengurangi kehilangan produksi di lapangan.

Peserta juga mendapatkan materi mengenai *grading* dan sortasi untuk mengenali mutu TBS. Pengetahuan ini penting agar pekebun memahami kondisi buah yang dipanen serta menjaga kualitasnya sejak dari kebun hingga memasuki proses pengolahan.

Selain itu, pengangkutan hasil menjadi bagian penting dalam penanganan pascapanen. TBS yang telah dipanen perlu dikumpulkan dan dipindahkan secara terencana dengan memperhatikan kondisi lapangan serta kebutuhan operasional. Pengelolaan pengangkutan yang baik membantu memperlancar aliran hasil dari kebun menuju tempat pengolahan.

Aspek ketelusuran hasil juga diperkenalkan melalui pencatatan asal TBS. Dengan pencatatan yang lebih tertib, pekebun dapat mengelola informasi produksi secara terorganisasi sekaligus mendukung tata kelola perkebunan yang lebih baik.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, pelatihan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Peserta juga mengikuti praktikum dan kunjungan lapangan ke PTPN IV Regional 4 di Tanjung Lebar. Di lokasi tersebut, mereka mengamati penerapan teknik pemanenan, penanganan TBS dan brondolan, serta proses *grading* dan sortasi.

Pembelajaran langsung di lapangan memberikan kesempatan kepada pekebun untuk melihat penerapan teknik panen dan pascapanen sekaligus mengevaluasi praktik yang selama ini dilakukan. Harapannya, pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan sesuai kondisi kebun masing-masing.

Ketua Tim Kerja Pemberdayaan dan Peningkatan Kapasitas/Kapabilitas Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Direktorat Jenderal Perkebunan, Tulus Tri Margono, juga menyoroti risiko kehilangan hasil akibat teknik pemanenan yang belum optimal dan penanganan pascapanen yang kurang tepat.

Tulus mengingatkan peserta agar memanfaatkan kesempatan pelatihan dengan sebaik-baiknya dan membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada pekebun lain. Dalam pemberitaan Kabarku mengenai pelatihan tersebut, ia berpesan, “Jangan disia-siakan kesempatan ini.”

Pelatihan ini diikuti 60 pekebun dari Kabupaten Tebo, serta masing-masing 29 pekebun dari Kabupaten Sarolangun dan Batanghari.

Melalui penguatan keterampilan panen dan pascapanen, pekebun sawit di Jambi diharapkan mampu menekan kehilangan hasil, menjaga mutu TBS, dan meningkatkan efektivitas kegiatan perkebunan. Perbaikan praktik tersebut menjadi langkah penting untuk mengoptimalkan produksi tanpa harus selalu mengandalkan penambahan luas lahan, sekaligus menjaga pendapatan usaha kelapa sawit rakyat.

Artikel Terkait