• Kamis, 24 September 2026
Berita Terbaru

BPDP, Ditjenbun, dan DGL Bekali 94 Petani Subulussalam, Produktivitas Sawit Dimulai dari Panen yang Tepat

Banda Aceh, SAWIT INDONESIA — Upaya meningkatkan pendapatan petani sawit tidak selalu harus dimulai dari perluasan lahan atau penambahan pupuk. Cara memanen buah yang benar dan penanganan pascapanen yang tepat justru menjadi kunci penting untuk mengurangi kehilangan hasil dan meningkatkan nilai jual tandan buah segar (TBS).

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian dan DGL Learning Institute menggelar Pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit bagi 94 petani asal Kota Subulussalam, Aceh. Kegiatan berlangsung di Banda Aceh pada 7–12 Juni 2026 dan menjadi bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026.

Para peserta dibagi dalam tiga kelas dan akan mendapatkan pembelajaran teori maupun praktik lapangan untuk meningkatkan kemampuan teknis panen dan pengelolaan hasil panen sawit.

Direktur Utama PT Daya Guna Lestari (DGL Learning Institute), M. Gema Aliza Putra, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk nyata pengembalian manfaat dana sawit kepada petani.

Menurutnya, masih banyak potensi pendapatan yang hilang di tingkat kebun akibat buah dipanen terlalu muda, brondolan tidak terkutip, atau penanganan hasil panen yang belum sesuai standar.

“Inilah dana sawit yang pulang ke rumah. Dari petani, dikelola negara, dan hari ini kembali kepada petani,” ujar Gema saat membuka pelatihan, pada 7 Juni 2026.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa dana yang dihimpun dari sektor sawit dikembalikan kepada petani dalam bentuk peningkatan kapasitas dan keterampilan yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Tidak hanya memberikan pelatihan selama beberapa hari, DGL juga menyiapkan pendampingan berkelanjutan melalui sistem Learning Management System (LMS).

Melalui platform tersebut, peserta dapat mengakses materi pelatihan serta mengikuti evaluasi perkembangan kebun hingga tiga dan enam bulan pasca pelatihan.


Pelatihan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Aceh.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP., MP., yang sambutannya dibacakan Sekretaris Dinas, Dr. Zulfadhli, S.P., M.P., menyampaikan bahwa sektor perkebunan menjadi salah satu penopang utama ekonomi daerah.

"Saat ini, sebanyak 821.662 kepala keluarga di Aceh menggantungkan hidup pada subsektor perkebunan. Khusus komoditas kelapa sawit rakyat, luas arealnya mencapai 268.189 hektare yang dikelola oleh 147.834 kepala keluarga petani," ucapnya.

"Di Kota Subulussalam sendiri, perkebunan sawit rakyat tercatat mencapai 19.304 hektare dengan 13.614 kepala keluarga petani. Karena itu, pemerintah daerah menilai peningkatan keterampilan panen dan pascapanen menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas crude palm oil (CPO) dan mendukung stabilitas harga TBS yang diterima petani," imbuh Zulfadhli.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perikanan Kota Subulussalam, yang diwakili oleh Kepala Bidang Perkebunan, Andriansyah, SST, menyebut kelapa sawit sebagai komoditas unggulan yang menopang perekonomian masyarakat setempat. Dari sekitar 40 ribu hektare kebun sawit yang ada di wilayah tersebut, sekitar 60 persen merupakan perkebunan rakyat.

"Melalui pelatihan ini, pemerintah berharap petani semakin memahami standar kematangan buah, teknik panen yang efisien, serta tata kelola pascapanen yang mampu menjaga kualitas hasil hingga ke pabrik," katanya.

Pesan yang terus digaungkan selama kegiatan adalah bahwa ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti pada diri mereka sendiri, melainkan dapat ditularkan kepada petani lainnya sehingga manfaat program semakin luas,"

Selain pelatihan dan praktik lapangan di kebun, pada kesempatan yang sama DGL Learning Institute juga menandatangani nota kesepahaman dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perikanan Kota Subulussalam, serta Politeknik Kutaraja.

Kerja sama tersebut menjadi langkah awal memperkuat pengembangan sumber daya manusia perkebunan sawit di Aceh secara berkelanjutan.

Program Pengembangan SDM Perkebunan yang didanai BPDP dan didukung Ditjenbun ini diharapkan mampu melahirkan petani sawit yang lebih terampil, produktif, dan siap meningkatkan daya saing perkebunan rakyat di tengah tantangan industri sawit yang terus berkembang.

Artikel Terkait