• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

BPDP, DITJENBUN dan BPI Melatih Petani Kelapa Sawit Bengkalis dan Kuansing, provinsi Riau membuat dan aplikasi Pupuk Organik

Pekanbaru, SAWIT INDONESIA — Kebutuhan akan pangan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. Produksi pangan digenjot dengan penggunaan pupuk an-organik dan pestisida, namun kenaikan produksi tidak seimbang dengan kenaikan penggunaan pupuk an-organik. Produksi pupuk an-organik tidak bisa mengimbangi permintaan pupuk, sehingga harga pupuk menjadi naik. Alternatifnya adalah produksi pupuk organik sendiri.

Secara garis besar gambaran kondisi pupuk di Indonesia adalah:

  • Kebutuhan pupuk nasional terus meningkat.
  • Kapasitas produksi pupuk an-organik terbatas.
  • Kompetisi penggunaan pupuk antara sektor pertanian dan Perkebunan.
  • Biaya pupuk mencapai 60 – 70% biaya perawatan tanaman, dimana harga pupuk masih relatif tinggi.
  • Terjadinya penurunan kesuburan dan Kesehatan tanah akibat pemakaian pupuk an-organik yang berlebihan.
  • Terjadi in-efisiensi dalam penyerapan hara oleh tanaman.

Resiko pemakaian pupuk an-organik yang berlebihan adalah terjadinya penurunan daya dukung tanah atau degradasi baik secara fisik, kimia maupun biologi didalam tanah.

Degradasi secara Fisik yaitu:

  • Tanah menjadi keras dan tidak mudah menyerap air.
  • Efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman rendah, pemborosan biaya pupuk.
  • Untuk mempertahankan produktifitas yang sama, dosis pemupukan terus meningkat.
  • Agroekosistem dan mikro klimat dalam tanah terganggu.

Degradasi secara Kimia yaitu:

  • Nilai pH tanah menjadi rendah (masam), sehingga menyebabkan beberapa unsur mikro penting tidak dapat dilepas dengan baik.
  • Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah rendah yang menyebabkan penurunan daya serap unsur hara oleh tanaman.
  • Terjadinya ketidakseimbangan hara dalam tanah terutama unsur fosfor (P), kalium (K) dan unsur mikro seperti boron (B), tembaga (Cu), mangan (Mn), seng (Zn) dan lain-lain); sementara pelepasan unsur hara Cu dan Zn sangat penting untuk kekebalan tanaman terhadap hama dan penyakit.

Degradasi secara Biologis yaitu:

  • Bahan organik dalam tanah menurun.
  • Kandungan humus yang kaya bahan humat (asam fulvat dan asam humat) dalam tanah menurun.
  • Populasi mikroba bermanfaat musnah terutama mikroba pelarut P, K dan unsur hara mikro serta mikroba penambat nitrogen (N).
  • Mikroba predator alami dari jamur pathogen tular tanah seperti Ganoderma berkurang bahkan musnah, seperti jamur Trichoderma spp.
  • Makro fauna dalam tanah seperti cacing tanah (soldiers of God) tidak mampu bertahan hidup

Merespons kondisi tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) dan Best Planter Indonesia (BPI) menyelenggarakan pelatihan intensif bagi petani sawit di Riau khususnya asal Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). Dalam pelatihan ini peserta dididik dandeilatih untuk memproduksi pupuk organik secara mandiri dengan memanfaatkan limbah perkebunan dan limbah organik sekitar, cara aplikasinya berupa kombinasi pupuk organik dan pupuk kimia.

Pelatihan ini dilaksanakan di Hotel Bono, kota Pekanbaru, propinsi Riau dari tanggal 30 Juni 2026 hingga tanggal 4 Juli 2026. Jumlah Petani sawit yang dilatih oleh BPI untuk modul pembuatan dan aplikasi pupuk organik, dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) berjumlah 139 orang, dan dari Kabupaten Bengkalis berjumlah 62 orang, total seluruh peserta pelatihan adalah 201 orang.

Artikel Terkait