SAWIT INDONESIA - Bedah dan Diseminasi Buku “Mitos Vs Fakta: Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Global Edisi Keempat di Universitas Sebelas Maret (UNS) telah sukses digelas pada hari Sabtu tanggal 11 Oktober 2025. Penyelenggaraan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dengan Keluarga Mahasiswa Agribisnis (KAMAGRISTA) dan Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UNS.
Tidak hanya diikuti oleh mahasiswa di lingkungan UNS saja, kegiatan ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai universitas se-Solo Raya seperti Universitas Negeri Sebelas Maret, Universitas Tunas Pembangunan, Universitas Veteran Bangun Nusantara, Universitas Batik Surakarta, dan Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. Bahkan ada juga peserta kegiatan yang berasal dari universitas di luar Solo seperti Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya antusiasme mahasiswa di Tanah Jawa untuk mengenal kelapa sawit lebih dalam.
Perwakilan UNS yang hadir dalam kegiatan Bedah dan Diseminasi Buku Mitos Fakta Sawit Edisi Keempat ini diantaranya Raden Kunto Adi S.P M.P(Ketua Program Studi Vokasi Agribisnis) dan Prof. Dr. Ir. Agung Wibowo S.P., M.Si. (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Pertanian Bidang Kemahasiswaan UNS). Kegiatan tersebut juga turut dihadiri perwakilan BPDP yakni Helmi Muhansyah selaku Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah BPDP.
Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan buku Mitos Fakta Sawit Edisi Keempat kepada mahasiswa se-Solo Raya. Pembahasan isu buku disampaikan secara ringkas namun komprehensif oleh Dr. Tungkot Sipayung (Direktur Eksekutif PASPI) yang juga merupakan ketua Tim Penyusun Buku. Kemudian dilanjutkan dengan bedah buku yang disampaikan tiga dosen UNS yakni Dr. rer. agr. Evi Irawan S.P., M.Sc. (Ketua Program Studi Agribisnis UNS), Prof. Dr. Ir. Agung Wibowo S.P., M.Si. (Dosen Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UNS), dan Bara Yudhistira S.T.P., M.Sc., Ph.D. (Dosen Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan UNS).
Salah satu isu sawit yang di-highlight dalam diskusi tersebut yakni kontribusi industri sawit dalam perekonomian. Dalam Buku Mitos Vs Fakta Sawit Edisi Keempat telah dipaparkan secara komprehensif terkait kontribusi industri sawit dalam perekonomian baik dari level petani sawit, desa (lokal), daerah, nasional, hingga global.
Manfaat ekonomi sawit tersebut juga dinikmati secara inklusif, tidak hanya pelaku usaha yang terlibat secara langsung dalam usaha perkebunan sawit (petani, karyawan perusahaan perkebunan), tetapi juga turut dinikmati oleh masyarakat secara umum. Perkebunan sawit menjadi lokomotif ekonomi berhasil menarik tumbuh berkembangnya sektor-sektor ekonomi lain di kawasan pedesaan yang kemudian menciptakan economic spillovers yang lebih besar dan luas di level daerah dan nasional. Bahkan kontribusi sawit pada perekonomian global ditunjukkan oleh studi European Economics (2014, 2016) yang mengungkapkan bahwa impor dan hilirisasi minyak sawit akan meningkatkan perekonomian negara importir.
Jika dikaitkan dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang “dipasang” Pemerintah Indonesia saat ini, industri sawit harus berinovasi menciptakan kontribusi ekonomi yang lebih besar. Dalam mahzab Sumitronomics yang erat kaitannya dengan kebijakan ekonomi pada era pemerintah Presiden Prabowo saat ini, menunjukkan bahwa industri sawit dapat diposisikan sebagai mesin pertumbuhan sekaligus pengungkit pemerataan.
Peran industri sawit sebagai mesin pertumbuhan (growth engine) melalui perluasan dan pendalaman hilirisasi sawit. Produk hasil hilirisasi sawit yang bernilai tambah lebih tinggi dapat ditujukan untuk pasar ekspor (promosi ekspor) sehingga dapat menghasilkan devisa yang besar. Selain itu, produk hilir sawit tersebut juga dapat ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik (perluasan pasar) dan/atau menggantikan produk impor (substitusi impor) sehingga dapat menghemat devisa. Kegiatan hilirisasi sawit tersebut juga akan menciptakan multiplier effect (pendapatan, tenaga kerja, konsumsi) yang akan menghasilkan “kue ekonomi” yang lebih besar.
Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah Indonesia sudah memiliki grand policy dalam rangka mendorong pengembangan hilirisasi sawit domestik sejak tahun 2011 hingga saat ini. Paket kebijakan yang dimaksud adalah kebijakan pungutan ekspor (dengan desain tarif semakin rendah untuk produk hilir), kebijakan reinvestasi dana pungutan ekspor kembali ke industri sawit, dan kebijakan mandatori biodiesel.
Industri sawit juga dapat berperan sebagai pengungkit pemerataan ekonomi melalui integrasi bisnis/usaha berbasis kerakyatan baik dalam bentuk UMKM atau koperasi ke dalam rantai pasok sawit dari hulu hingga hilir (pabrik olahan maupun jasa pendukung). UKMK (koperasi) menjadi jembatan agar manfaat ekonomi sawit dapat dinikmati semakin inklusif oleh masyarakat di kawasan pedesaan yang diharapkan akan menarik berkembangnya sektor-sektor ekonomi lainnya sehingga dapat menggerakkan roda perekonomian daerah tersebut. Strategi ini dinilai inovatif untuk semakin menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sebagai stakeholder penting dalam industri sawit nasional, BPDP juga memiliki program untuk mendorong pengembangan UMKM Sawit. Hal tersebut diungkapkan oleh Helmi Muhansyah selaku Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah BPDP dalam keynote speech yang disampaikan kepada peserta Bedah dan Diseminasi Buku Mitos Vs Fakta Sawit Edisi Keempat di UNS.
Dalam paparannya tersebut juga disampaikan bahwa BPDP berkolaraborasi dengan berbagai stakeholder lain untuk mencetak 1,000 UMKM Perkebunan, termasuk UMKM Sawit. Salah satu kolaborator penting dalam menjalankan program tersebut adalah universitas/institusi pendidikan.
Fakultas Pertanian UNS menjadi salah satu kolaborator BPDP untuk mengembangkan program Perintisan Wiraswasta Muda Berbasis Limbah Kelapa Sawit di Provinsi Jambi. Program ini terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan diantaranya workshop pengolahan limbah sawit. Ditargetkan program ini dapat melahirkan start-up dengan bisnis pengolahan limbah sawit yang kemudian dapat direplikasi menjadi UMKM Sawit unggulan.
Target BPDP tersebut bukan hanya sekedar ambisi. Pada kesempatan Bedah dan Diseminasi Buku Mitos Vs Fakta Sawit di Universitas Andalas, Helmi Muhansyah juga menyampaikan keberhasilan program Inkubasi Bisnis UKMK Sawit yang diselenggarakan oleh BPDP dan Universitas Andalas. Program tersebut telah melahirkan UMKM yang mengolah biomassa sawit menjadilidi sawit. Tidak hanya berhasil menjadi sumber pendapatan lain bagi keluarga petani sawit, UMKM tersebut juga berhasil mencetak devisa ekspor karena produk lidi sawit yang diproduksi berhasil menembus pasar ekspor.






