• Minggu, 27 September 2026
Sosok

Raih Doktor Honoris Causa USU dan Rekor MURI

Soedjai Kartasasmita menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Sumatera Utara (USU). Selain itu, Pria kelahiran Cilacap ini juga meraih Rekor MURI untuk kategori Begawan Perkebunan Indonesia.

Soedjai Kartasasmita menerima penghargaan Gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Ilmu Pengembangan Bioteknologi Perkebunan pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Wisuda penganugerahan diberikan Rektor USU, Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si kepada Soedjai Kartasmita yang diwakili anaknya, Achmad Suherman Kartasasmita dalam Upacara Pemberian Gelar Doktor Honoris Causa di Digital Learning Center Building, Senin (27 Mei 2024). Pemberian gelar ini berdasarkan Surat Keputusan Rektor USU Nomor 1588/UN5.1.R/RK/SPB/2022 Tentang Penetapan Pemberian Gelar Doktor Kehormatan Honoris Causa kepada Soedjai Kartasasmita.

Penganugerahan ini merupakan bagian dari tradisi USU dalam menghormati individu yang telah memberikan kontribusi signifikan kepada masyarakat dan ilmu pengetahuan. Soedjai Kartasasmita merupakan orang ketiga yang dianugerahkan gelar doktor kehormatan.

Rektor USU, Prof. Dr. Muryanto Amin., S.Sos, M.Si menjelaskan bahwa proses penilaian untuk pemberian gelar ini memakan waktu kurang lebih tiga tahun, sejak usulan pertama kali diajukan oleh masyarakat. Proses ini dilakukan sesuai dengan Peraturan Rektor Universitas Sumatera Utara Nomor 23 Tahun 2022 tentang Pemberian Gelar Doktor Kehormatan.

Rektor USU menyatakan bahwa kontribusi Soedjai Kartasasmita memberikan inspirasi penting bagi generasi muda, terutama Generasi Z, yang menunjukkan penurunan minat di sektor pertanian dan perkebunan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan inovasi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

”Peran tersebut menjadi sangat penting bagi generasi muda, terutama Gen-Z, yang menunjukkan kecenderungan penurunan minat berprofesi di bidang pertanian dan perkebunan,” ujar Prof. Muryanto.

Dalam kegiatan yang digelar di USU ini, Soedjai Kartasasmita menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pembangunan Perkebunan Sebagai Agen Development Berkelanjutan.

Dr (HC) Soedjai Kartasasmita, dalam pidato secara virtual, memberikan apresiasi kepada Rektor USU beserta sivitas akademika, tim promotor, dan masyarakat yang berinisiatif memberikan penghargaan berupa gelar kehormatan Doktor Honoris Causa atas pertimbangan keterlibatan dan upaya dirinya membangun sektor perkebunan.

“Upaya yang saya lakukan di bidang perkebunan jauh dari keinginan untuk memperoleh penghargaan akademik. Tetapi merupakan panggilan hati dan atas kecintaan terhadap negeri ini terhadap bidang yang saya geluti dari kecil hingga sekarang di umur 97 tahun,” kata Soedjai.

Menurutnya dunia perkebunan telah berkontribusi bagi dirinya sejak kecil sampai dalam perjalanan karirnya. ”Betapa besarnya kecintaan pada negeri ini, sampai-sampai pada usia muda menyediakan diri sebagai kurir dalam perjuangan kemerdekaan hingga ditangkap bangsa penjajah. Kerasnya perjuangan tersebut memberikan kesadaran bahwa sumberdaya alam negara ini harus dimanfaatkan optimal bagi kesejahteraan bangsa,” kata Soedjai.

Sebagai Ketua Umum Pembina Yayasan Museum Perkebunan Indonesia (MUSPERIN), Soedjai Kartasasmita berpendapat bahwa sektor perkebunan masih belum berubah dari ratusan tahun lalu hingga sekarang, bahkan tertinggal dari sektor bisnis lain.

”Saya lihat kuncinya ada di sumber daya manusia dan teknologi. Jadi teknologi dan pengetahuan telah berkembang di seluruh dunia dengan tingkatan kapasitas baik dalam konsep, temuan dan terapannya. Hanya sumber daya manusia kaya pengetahuan akan menerapkan inovasi serta manajemen untuk meningkatkan efisiensi bisnis perkebunan di Indonesia,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya jaringan yang kuat dengan pusat - pusat pengetahuan, informasi, dan bisnis baik di dalam maupun luar negeri untuk mengembangkan bisnis perkebunan. Sebagai bagian dari upayanya memajukan sektor ini, ia menginisiasi pembangunan pabrik minyak makan berbahan baku kelapa sawit pada tahun 1977. Meskipun pabrik ini menghadapi berbagai tantangan, ia berhasil menunjukkan bahwa minyak goreng kelapa sawit dapat menjadi komoditas penting di pasar dunia.

”Sayang sekali menurut analisa bisnis pada saatitu, (minyak makan berbahan baku kelapa sawit) diperlukan waktu yang lama untuk diadopsi masyarakat, sehingga pabrik ini dibatasi kuota bahan bakunya,” paparnya.

Soedjai juga menyoroti pentingnya pemanfaatan bioteknologi dan penelitian terkait dengan tanaman transgenic untuk meningkatkan produktivitas perkebunan dan pertanian di Indonesia. Menurutnya, dengan lahan yang semakin sempit, penerapan teknologi terbaru dan inovasi adalah sebuah keharusan untuk menghadapi perubahan iklim dan tantangan lingkungan lainnya.

Soedjai Kartasasmita lahir di Cipari, Cilacap, 26 November 1926 telah mengenyamber bagai pendidikan yang ditempuh nyabaik di dalam dan luar negeri, termasuk program-progaram Advanced Management INSEAD (Institut Managemen Eropa) di Fontainebleau (Perancis, 1977, 1984, 1991, 1995) di Avignon 1997, Tokyo dan Kyoto (1984) Seoul (1989.1997), Shanghai (2002), Hongkong (1996, 1999), Pebble Beach Palo Alto (California, USA, 1995), dan Singapura (1994, 1997, 2001, 2002, 2004, 2005).

Beliau juga menempuh studi profesi tentang gula di Brasil, USA, Cuba, Canada, Australia, Afrika Selatan, Thailand, dan India. Studi Kelapa Sawit di Malaysia, Pantai Gading (Afrika), Costa Rica, Papua New Guinea, Brazil, dan Paris. Studi karet di Malaysia, Cambodia, dan Thailand. Studi kedelai di Brazil, University Illinois, Urbana, USA. Studi kakao di Brazil, Pantai Gading, Malaysia, serta studi kelapa di Pantai Gading dan Malaysia. Studi tentang teh didapat dari Srilanka dan India.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 152)

Artikel Terkait