Kalangan pelaku industri meyakini benefit digitalisasi di pabrik kelapa sawit. Melalui penerapan teknologi digital perusahaan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, hingga tanggungjawab lingkungan.
Hal itu terangkum dalam seminar bertemakan Menjadikan Pabrik Sawit Efisien dan Tepat Guna” dalam rangkainan 2nd Sawit Indonesia Expo and Conference (SIEXPO 2024) pada Sabtu (10/8/2024). Acara SIEXPO sendiri berlangsung dari 8-10 Agustus di Ska Co-Ex Pekanbaru, Riau.
Hadir dalam diskusi itu pemateri yang ahli di bidangnya antara lain Widayanto (Chief Technical Officer PT Astra Agro Lestari Tbk), Krisman P Sitinjak (Head of Mill Asian Agri), dan Dosen AKPY STIPER Subakho Aryo Soloko.
Widayanto menjelaskan bahwa perusahaan juga memiliki 14 port activity yang mendukung pengiriman produk hingga sampai ke pelanggan. Ini semua dikelola dengan sistem yang disebut Plantation Information Management System (PIMS), yang merupakan rumah bagi semua inisiatif digitalisasi Astra Agro.
“Konsep PIMS meliputi seluruh rantai operasional, mulai dari panen, angkut, hingga pengolahan. Salah satu inovasi kunci kami adalah sistem boarding yang memastikan kelancaran proses di pabrik. Sistem ini mengintegrasikan berbagai elemen operasional, termasuk manajemen feed stock dan sumberdaya manusia, sehingga proses produksi berjalan lebih optimal,” lanjutnya.
Sistem boarding ini memungkinkan Astra Agro untuk mengelola Tandan Buah Segar (TBS) eksternal dengan lebih efisien. Dengan adanya sistem ini, para pemasok bisa mengetahui kapan mereka harus memasok TBS ke pabrik, sehingga mengurangi waktu tunggu dan meningkatkan efisiensi transportasi.
Selain itu, sistem ini juga mengoptimalkan penggunaan sumberdaya di pabrik, mulai dari waktu operasional hingga alokasi tenaga kerja.
“Kami juga telah mengembangkan MELLI (Mill Excellent Indicator), sebuah sistem yang mengidentifikasi enam titik kontrol kritis di operasional pabrik. Dengan MELLI, kami bisa memonitor stabilitas operasional pabrik secara real-time dan memastikan bahwa setiap pabrik beroperasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan,” tambah Widayanto.
Inovasi lain yang dikembangkan adalah ALMIRA, sebuah sistem yang menggabungkan perencanaan maintenance mingguan dan harian untuk memastikan pabrik beroperasi dengan maksimal tanpa gangguan. Sistem ini memungkinkan Astra Agro untuk mengurangi frekuensi breakdown dan meningkatkan availability pabrik.
“Secara keseluruhan, inisiatif-inisiatif ini telah memberikan dampak positif terhadap efisiensi dan produktivitas pabrik kami. Dari boarding system yang meningkatkan efisiensi sebelum proses pengolahan, hingga MELLI yang menjamin stabilitas operasional, dan ALMIRA yang mengoptimalkan resources dan meminimalkan breakdown,” ungkap Widayanto.
Widayanto juga menjelaskan bahwa apa yang dilakukan perusahaan merupakan komitmen dari Sustainability Aspiration 2030 yang salah satunya yakni strategi Portfolio dimana fokus pada upaya penurunan emisi gas rumah kaca dan strategi Public Contribution.
“Jadikalau di Public Contribution dengan kita memastikan boarding system. Salah satunya adalah kita punya ikatan dan juga pemahaman bahwa mitra atau para petani itu akan menjadi tamu yang harus kita service. Kita sampai membangun anjungan. Jadi anjungan ini adalah seperti transit, jadi kalau supir yang datang, kita sampaikan, karena supir itu menjadi perantara pemilik dan kami di pabrik,” terang dia.
Dalam pemaparannya, Head of Mill Asian Agri Krisman Sitinjak mengungkapkan jurus Asian Agri membangun pabrik agar bisa efisien dan tepat guna. Dia menuturkan, salah satunya adalah transformasi digital yang berbasis kualitas yang lebih baik, produktivitas yang lebih baik dan biaya yang kompetitif.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 154)














