Pundu, SAWIT INDONESIA — Sebanyak 149 petani sawit swadaya dan penyuluh dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendapat pengalaman belajar langsung di lapangan melalui kegiatan field trip ke kebun milik PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA), Region 3 Pundu. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelatihan Kelas Budidaya Kelapa Sawit dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan Direktorat Jenderal Perkebunan.
Berbeda dari pembelajaran di kelas, field trip ini memberi kesempatan bagi peserta untuk melihat langsung penerapan Good Agricultural Practices (GAP) di kebun perusahaan. Mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM), hingga pengelolaan tanaman menghasilkan (TM), seluruh tahapan diperlihatkan secara nyata kepada peserta.
Praktisi Kebun dari AKPY, Ir. Tri Haryadi, mengatakan pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas petani, karena peserta dapat membandingkan teori yang diperoleh selama pelatihan dengan praktik langsung di kebun.
“Tujuan kita agar bapak dan ibu bisa melihat langsung bagaimana best practice management dijalankan. Jadi tidak hanya teori, tapi benar-benar melihat prosesnya di kebun,” ujar Tri usai kegiatan.
Dalam kunjungan tersebut, peserta juga mendapat pemahaman tentang pentingnya penggunaan bibit unggul sebagai fondasi produktivitas kebun.
Region Head 3 Pundu BGA, Lavin D. Saputra, menegaskan bahwa kualitas bibit menjadi faktor awal yang sangat menentukan keberhasilan budidaya.
“Bibit yang berkualitas akan menjadi fondasi pohon yang sehat dan produktif. Ini langkah awal yang sangat menentukan hasil kebun ke depan,” kata Lavin.
Tak hanya itu, peserta juga diajak memahami cara pengelolaan lahan marginal yang banyak ditemukan di Kotim, termasuk strategi efisiensi biaya melalui penggunaan tanaman penutup tanah (legume cover crop/LCC) untuk meningkatkan bahan organik tanah dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia maupun herbisida.
Menurut Lavin, pembelajaran langsung di lapangan memberi pengalaman yang lebih aplikatif karena petani dapat berdiskusi langsung dengan asisten dan manajer kebun mengenai berbagai tantangan teknis di lapangan, mulai dari pemilihan bibit, pola pemeliharaan, hingga strategi pemupukan berbasis kebutuhan tanaman.
Ia berharap kegiatan studi banding seperti ini tidak berhenti pada transfer pengetahuan semata, tetapi juga menjadi awal hubungan konsultasi teknis jangka panjang antara perusahaan dan petani.
“Kalau kualitas SDM meningkat, produktivitas sawit rakyat juga akan naik. Dan ketika produktivitas naik, pendapatan petani serta kesejahteraan keluarganya ikut meningkat,” pungkasnya.
Melalui pembelajaran praktis ini, para petani diharapkan dapat membawa pulang pengalaman dan pengetahuan baru yang bisa langsung diterapkan di kebun masing-masing, sehingga produktivitas sawit rakyat di Kotawaringin Timur dapat terus tumbuh lebih efisien dan berkelanjutan.






