• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Bawa Suara Petani di ASEAN Forum CISCE 2026, APKASINDO Suarakan Perdagangan Sawit dengan China Berikan Manfaat Ekonomi dan Sosial

Beijing, SAWIT INDONESIA — Suara petani kelapa sawit Indonesia kembali menggema di panggung internasional. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) mendapat kehormatan menjadi pembicara dalam ASEAN Forum pada ajang China International Supply Chain Expo (CISCE) 2026 yang berlangsung pada 22–26 Juni 2026 di China.

Dalam forum strategis yang mempertemukan para pemimpin kamar dagang, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan dari China serta negara-negara ASEAN tersebut, APKASINDO membawa misi penting untuk menyuarakan aspirasi petani sawit Indonesia terkait dinamika perdagangan global, khususnya dengan China.

Mewakili Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO., Head of International Relation APKASINDO, Dr. (Cn) Djono A. Burhan, S.Kom., MMgt (Int. Bus), CC, CL, hadir sebagai pembicara utama untuk memaparkan peran krusial industri sawit.

APKASINDO bersama delegasi Indonesia yang dipimpin Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, dalam rangkaian kunjungan kerja di Beijing, China. Kunjungan tersebut membahas berbagai peluang kerja sama strategis antara Indonesia dan China. Dalam pertemuan tersebut, delegasi Indonesia bertemu dengan sejumlah pelaku usaha dan investor asal China yang menyampaikan komitmen mereka untuk terus memperkuat kerja sama ekonomi dengan Indonesia.

Dalam paparannya, Djono menegaskan aspirasi para petani bahwa hubungan dagang kelapa sawit antara Indonesia dan China tidak boleh hanya dilihat sebagai transaksi bisnis atau komoditas ekspor semata. Lebih dari itu, aktivitas perdagangan ini membawa dampak sosial yang sangat masif bagi jutaan kepala keluarga di Indonesia.

"Indonesia bersyukur karena sawit tumbuh subur di negeri ini. Sekitar 16 juta petani kelapa sawit beserta keluarganya menggantungkan kehidupan dari industri sawit. Kehadiran sektor ini juga berkontribusi nyata dalam mengurangi angka kemiskinan di wilayah pedesaan sentra perkebunan sawit," ungkap Djono.

Djono menambahkan bahwa setiap volume minyak sawit yang diserap oleh pasar China dan ASEAN secara langsung memberikan manfaat ekonomi timbal balik sekaligus jaminan kesejahteraan sosial bagi para petani di hulu.

“Setiap minyak sawit yang dibeli oleh negara ASEAN dan China memberikan manfaat ekonomi bagi kedua belah pihak sekaligus manfaat sosial bagi jutaan petani kelapa sawit Indonesia,” tegasnya.

Aspirasi dan penguatan posisi petani sawit di kancah internasional ini terlaksana berkat dukungan penuh dari pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Keikutsertaan APKASINDO merupakan bagian dari penguatan rantai pasok yang dipimpin oleh perwakilan Indonesia.

Kehadiran APKASINDO di forum tersebut juga turut disaksikan dan didukung oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie. Anindya menekankan bahwa membangun kepercayaan (trust) adalah fondasi utama untuk kerja sama jangka panjang antara Indonesia, ASEAN, dan China.

Pada kesempatan yang sama, APKASINDO menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas, Prof. Rachmat Pambudy, atas implementasi Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 yang memasukkan sektor sawit ke dalam Program Strategis Nasional (PSN) melalui PSN Hilirisasi Sawit Rakyat.

Program ini merupakan wujud nyata dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang fokus pada peningkatan hilirisasi sumber daya alam, mewujudkan ketahanan energi nasional, dan meningkatkan kesejahteraan petani melalui pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Melalui momentum ASEAN Forum CISCE 2026 ini, APKASINDO yang juga tergabung dalam Satgas PSN berharap kerja sama multilateral dengan China ke depan semakin kokoh, adil, dan berkelanjutan, sehingga suara serta kesejahteraan petani sawit domestik terus menjadi prioritas utama dalam rantai pasok global.

Artikel Terkait